Sedikit Tentang Bunga

by - Tuesday, April 14, 2015
Saya lupa kapan terakhir kali dapat bunga dari seseorang. Memang pada dasarnya saya bukan tipe wanita yang “ngidam” dikasih bunga sama cowo, sih. Pernah ada seseorang yang ngasih saya 1 tangkai mawar putih, tapi saya tolak. Di depan mukanya. Bukannya tidak suka, tapi malu. Kecuali kalau dia pacar saya, ya saya pasti dengan senang hati menerimanya. Lagian, cewe mana sih yang ngga suka dikasih bunga hahaha.

Beberapa waktu lalu ada yang mengirimkan saya satu buket bunga mawar merah. Tepat saat hari ulang tahun saya yang ke 21. Di lempar ke teras rumah pula (ngga sopan sih sebenarnya). Kebetulan si Mbak yang suka datang untuk bersih-bersih rumah yang memergoki buket bunga itu teronggok di teras.

Siapa?

Kalau saya tau mungkin saya tidak akan menulis tulisan ini. Yah, walaupun tujuan dari tulisan ini juga bukan untuk mencari siapa si pengirim bunga ini sih.

Kepada siapapun yang sudah berbaik hati memberi 1 buket bunga mawar merah dan sebuah pesan manis di hari ulang tahun saya, terima kasih :)

Marching In

by - Sunday, March 08, 2015
Belakangan rumah terasa sekedar menjadi tempat numpang mandi, makan, dan tidur. Saya sampai lupa punya kesibukan apa saja sih sampai-sampai membuat susah pulang di bawah jam 10 malam. Kuliah, rapat KKN, konsol, latihan, nugas, dan tetekbengek perkuliahan-organisasi.

Jujur, 1 bulan ini sangat amat melelahkan. Dinamika psikologis yang terjadi di dalam diri saya saat ini sangat ngga sehat. 80% kegiatan yang saya lakukan belakangan bukan karena saya mau dan suka (kecuali ops dan ngarung, itu sih suka banget), tapi lebih karena saya harus melakukannya dan ujung-ujungnya menjadi sebuah keterpaksaan. Menyedihkan bukan?

Saya belum benar-benar selesai menganalisis kenapa bisa sampai seperti ini. Yang jelas bukan dampak masalah percintaan, ya. #uhuk

Bismillah, memasuki bulan baru (Maret) semoga saya bisa menata kondisi kejiwaan lagi. Mahasiswi Psikologi tingkat 3 loh.

Morning Reflection

by - Sunday, May 18, 2014
You lose one good person in your life, but you find another ones and even better.

Your once-a-good friend thinks you are a bad person and places yourself as his/her enemy now, but you find MORE than one person who trust and appreciate you in many other ways and always think you are good.

If we notice the pattern of all things revolved in our life, Allah would never let us suffer from sorrow and hardship for long standing. He even multiples the merits you may obtain so you don't have to worry over ONE unimportant matter and feel dejected :)

Be grateful everyday and He'll open the gate of unstoppable merits to your life.

This is what happens when you don't seek for goals, a process instead.

by - Thursday, January 16, 2014
Little Budhil Rapid, Upper Progo River. (January, 2014)
Wow, akhir minggu ini kami berangkat simulasi ke Sungai Padegolan. Dengan tidak adanya minggu recovery, berarti minggu depan kami sudah akan berangkat during ke Bali, dong?
Time sure flies excessively fast. Well, enjoy while it lasts!

+

by - Tuesday, December 31, 2013
I am the biggest procrastinator I've ever known in my life.

Menulis itu tidak susah sebenarnya. Menuangkan apa yang kamu pikirkan ke dalam rangkaian kata yang syahdu dan nyaman dibaca, itu yang menurutku susah. Apalagi jika yang kamu pikirkan dan ingin kamu tuliskan sudah mengendap di dalam otak berbulan-bulan.
Basi, kan, jadinya.


(Ditulis di tengah-tengah proses TC FUD Palapsi 2014)

Being an Early Adult

by - Monday, June 10, 2013
Kadang-kadang saya bingung menjalani masa-masa 'usia tanggung' seperti sekarang ini. Mungkin 19 tahun sudah tidak bisa dibilang tanggung lagi sih. Kalau menurut psikologi perkembangan, 19 tahun termasuk dalam kategori dewasa awal. Bukan remaja tanggung yang hobinya labil kesana-kemari. Tetapi, di dalam siklus hidup saya agaknya saya belum sepenuhnya menjadi 'dewasa awal'. Yang saya tahu, adult (orang dewasa, kb.) dengan mature (dewasa, ks.) jelas berbeda. Dari arti katanya secara harafiah saja sudah berbeda, terlebih lagi 'makna' di dalamnya.

Nah, yang jadi pertanyaan, dewasa itu yang bagaimana ya? Atau lebih tepatnya, menjadi dewasa itu bagaimana ya? 

Konsep dewasa, mature, dipikiran saya simple saja; mandiri dan bertanggung jawab akan apa yang jadi pilihannya. Jika mandiri = mampu hidup sendiri, mungkin saya kalah jauh dengan sebagian besar teman kampus saya yang merantau kuliah di Jogja dan ngekost. Karena hampir 19 tahun hidup saya dihabiskan di kota tercinta ini dan ada beberapa aspek yang saya masih gantungkan kepada orang tua. Dan mungkin itu menjadi salah satu faktor mengapa saya agak susah meninggalkan rumah untuk jarak yang jauh dan waktu yang lama. Tetapi jika menyangkut hal lain, bisa jadi saya lebih mandiri dibanding mereka. Who knows?

Kemudian, bertanggung jawab. Nah, mungkin bagi saya inilah tantangan terbesar dalam menuju proses pendewasaan, bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas hal sekecil apapun. Atas uang 500 perak milik seorang teman yang mungkin kita jatuhkan di selokan, atas piring kotor yang kita pakai setelah makan, atas pembagian kerja dalam mengerjakan tugas kelompok, atas keluhan-keluhan yang kita lontarkan ke orangtua.
Intinya, apa yang kamu putuskan ataupun lakukan, be responsible.

At last, do you consider yourself as matured already? *pertanyaan intrapersonal*

Fiction (1)

by - Wednesday, May 29, 2013
It was a long pause until he turns his head to see the front door.
There’s no footsteps...
She stares at his door.
I’m waiting... I want to count every footsteps you take until you get here...
She breaks down. She buries her face with her hand on the table.
I can’t hear it... I can’t hear your footsteps anymore...
She’s alone there, crying.
I thought you’d be here by now...


Full story will be posted real soon!

Well, pretty true.

by - Thursday, May 23, 2013
”It’s hard to leave — until you leave. And then it’s the easiest goddamned thing in the world.“
Quentin Jacobsen, Paper Towns

A Common 'One Day' Story

by - Wednesday, May 01, 2013

One day, a girl wants a boy to tell her his deepest thoughts. She wants to hear that he still loves her. She wants him to ask her questions about what's been going on so she can explain to him. She realizes that if he asks questions, it means he still cares and still wants to save the relationship.
She wants to go back to the way things were and hopes that by explaining everything to him, it will clear up any misunderstanding that may have occurred during their time apart.

Some people... They just see two completely different people, trying to make a what seems impossible relationship work. But, they can't understand that love for someone defies all logic and reasoning.

Happy Mayday.

Kodaline's All I Want and Some of My Chirps

by - Monday, April 29, 2013
I accidentally found this epic and heart-moving-kind-of-music video of a Dublin band, Kodaline, across my Twitter timeline. I love it so friggin much it brought me a lonely and lost story in such deep lyrics. Well I assume the song is actually about some break-up thing, huh?

And, these hands just can't help but post the video here because... (do not expect to hear some credible reasons regarding to me posting this since you might not want to) I've actually been wanting to write yet I can't really think up something new, original, and intriguing. Plus, I sorta don't have any idea what to do with the random ideas HERE *pointing at my own head*. LOL I'm being too honest. No, because I like it either the music video or the song itself and this is one of my ultimate favorites. So I think I should (at least) make a share post as my appreciation :)

Anyway, prepare rolls of tissue, darlings.

 Let's see.. It was @inestjokro who shared this if I'm not mistaken.
Syifana Rahma Addiyani. Powered by Blogger.