My Very Own Skincare Regimen (7 Steps)

by - Saturday, August 19, 2017
One of my most favorite times of the day is during my skincare routine. 

Semenjak 1 tahunan lalu, rutinitas wajib saya saat malam hari sebelum tidur serta pagi hari setelah mandi pagi adalah mengaplikasikan 7 layer skincare ke wajah. Yes, you heard it right. 7 layers of skincare. Mungkin bagi sebagian orang (which I believe mostly are men) ini sedikit berlebihan—atau sangat berlebihan. Dulu saya juga mikirnya begitu sih, nggak sempet deh kalo harus 7 steps apalagi kalo mau pake Korean skincare regimen yang 10 steps itu. Skincare routine saya cukup cleanse – tone (ini pun kalau ngga lupa ya) – moisturize saat malam hari, dan tambah sunscreen saat siang hari. I skipped treatment steps most of the time. Alasannya? Ya apa lagi kalau bukan males. Dan budget sih sebenernya! Hahaha. Serum dan essence itu mayan mahal bo’ buat kantong mahasiswa yang uang jajannya udah keburu abis duluan buat beli textbook (dan bayar kegiatan organisasi, nonton konser, nonton film, beli gelato, dll). Intinya, ngga ada spare budget buat splurging on skincare stuffs deh. 

Anyway, it happened 2-4 years ago. Lebih tepatnya saat jadi mahasiswa. Lebih spesifik lagi, saat jadi mahasiswa yang rutin ikut kegiatan outdoor club yang melibatkan panas-panasan, basah-basahan, keringet-keringetan. Harusnya justru itu jadi momen yang paling pas untuk benar-benar merawat kulit wajah, ya kan? Tapi saya mah engga. Udah bisa mandi dan cuci muka habis kegiatan outdoor aja udah syukur alhamdulillah. Pas lagi aktif-aktifnya, saya lebih sering mandi di kamar mandi kampus atau di pinggir sungai dari pada di kamar mandi rumah :”) karena kerjaannya jogging – latihan – jogging – latihan, gitu terus. Jadi, mana sempet ngurusin muka? Lagian, walaupun wajah kucel begitu buktinya masih banyak yang naksir. HAHAHA YA ALLAH PEDE BANGET. Just kidding!

Sebenernya kalau dibilang ngga sempet, aslinya sempet sih. Karena pada akhirnya setelah saya komitmen (dan ikhtiar juga ya tentunya) untuk coba merutinkan diri merawat kulit wajah dan tubuh, it works! 

Then, commitment is the key. 

Percaya ngga percaya, perihal skincare itu ngga cukup melakukannya aja, tapi kita juga perlu mempelajarinya. Kita ngga akan pernah tau apakah cara pakai skincare kita itu salah atau bener, apakah kandungan skincare kita bahaya atau ngga, apakah kulit wajah kita cocok dengan produk ini atau itu, kalau kita ngga mempelajari DAN melakukannya. Apa aja yang perlu dipelajari? Wah, banyak. Ngga cukup 24 SKS dalam 1 semester deh, hehe.

Saya sendiri sih banyak belajar tentang skincare dari internet. Ada tiga panutan utama saya dalam belajar tentang skincare: 1) Caroline Hirons, 2) Renée Rouleau, 3) Affi Assegaf.

Dari ketiga skincare guru itu lah saya benar-benar paham dan nglothok tentang pentingnya memperhatikan skincare regimen yang sesuai dengan jenis kulit saya, berikut step-by-step nya, produk apa saja yang harus kita splurge atau yang bisa kita steal, mana aja kandungan produk yang sesuai sama problem kulit wajah kita, banyak deh pokoknya!

Mungkin sebagian wanita sekarang lebih familiar dengan 10 steps of Korean skincare regimen. Prinsipnya sama sih dengan apa yang Hirons, Rouleau, atau Affi lakukan: first thing first—double cleanse, then exfoliate, tone, treat, and moisture. Semua orang berhak punya skincare regimen sendiri. Ngga harus sama persis dengan apa yang para skincare guru atau beauty blogger lakukan di luar sana. Yang penting kembali lagi, prinsipnya harus sama. Prinsip ya, bukan produk. Kalau mau beli produk yang sama dengan mereka, it’s fine. Tapi ingat, tetap sesuaikan dengan kondisi kulit dan tentunya, budget. (penting banget) 

So, yeah. I made my own skincare regimen and have been doing this every now and then. 

Kalau di awal tadi saya bilang 7 steps, sebetulnya ngga betul-betul 7 steps sih—9 steps to be precise. (lah makin banyak???) Yaudah, coba aja kalian itung sendiri ya.
 
My Daily Skincare Regimen 
Skin Type: Combination (Normal to Oily) 

1. Double Cleanse 
Karena prinsipnya sama-sama for cleansing, sebetulnya ini 2 step yang saya jadikan satu. Setelah seharian berkegiatan, mau pake make up/ngga, mau indoor/outdoor, sudah pasti wajah kita itu kotor. K O T O R. Nah untuk itu, sangat disarankan untuk melakukan double cleansing yang tujuannya agar kotoran yang menempel bisa bener-bener keangkat.

Ada beberapa produk yang saya gunakan untuk membersihkan lapisan terluar wajah saya, salah satunya adalah The Face Shop Rice Water Bright Cleansing Oil yang mana sudah habis sekarang dan saya tidak bisa beli lagi karena kata mbak-mbak counter The Face Shop di mall, produk ini sudah dispensed. Yang kedua adalah Hada Labo Ultimate Moisturizing Cleansing Oil. Saya beli Hada Labo ini karena tekstur oilnya yang paling mirip dengan The Face Shop. Cukup ampuh buat ngangkat produk make up yang nempel di wajah. Cara pakainya pun ngga ribet. Cukup tuang beberapa pump produnya ke telapak tangan, trus usap-usap ke seluruh muka sambil dipijat lembut. Boleh dihapus pakai kapas, boleh langsung dibilas pakai facial wash. Kalau saya lebih suka cara yang kedua. Up to your preference aja. Tapi saya kadang ngerasa kurang mantep dengan kemampuannya menghapus maskara dan eyeliner, jadi saya juga masih suka secara terpisah membersihkan eye make-up waterproof pakai Maybelline Clean Express Total Clean.

Nah, baru-baru ini saya nitip saudara sepupu KOSÈ Softymo Speedy Cleansing Liquid yang kebetulan lagi di Jepang. Sebenernya sih pengennya beli yang cleansing oil, tapi apa mau dikata... yaaa kita maklumi saja kemampuan para lelaki dalam belanja dan membedakan produk kosmetik :")
Anyway, saya ngga begitu mem-favoritkan produk ini sejujurnya. Mungkin karena dia tu nanggung banget! Cleansing water bukan, cleansing oil juga bukan. Pas dipakai pun rasanya nanggung. Belum lagi kalau untuk bersihin area mata, dia agak perih dan begitupun kalau bersihin area bibir, rasanya pahit pas ngga sengaja keicip. Kesimpulannya... sepertinya produk ini mengandung alkohol. Makanya saya ngga begitu suka. Tapi, kemampuannya buat mengangkat sisa make-up oke juga kok.

Setelah bersihin muka pakai oil-based cleanser, harus banget wajib ‘ain bilas muka dengan water-based cleanser. Saya pakai Acnes Face Wash Oil Control. Has always been in my basic keep since 2014, so… no comment, no complaint, no nothing. Intinya, carilah produk water-based cleanser yang tidak mengandung banyak busa atau kandungan SLS (Sodium Lauryl Sulfate) karena itu bikin wajah serasa ketarik—means, kering banget. Karena percaya atau ngga, SLS itu biasanya dipake buat campuran sabun cuci baju, pembersih lantai, bahkan pembersih mesin! Euwh.
Dan ada satu produk cuci muka lagi yang lagi saya pakai, yaitu Senka Perfect Whip Facial Foam from Shiseido. Prediksi saya, ini bakal jadi salah satu produk terfavorit saya tahun 2018. Karena emang sebagus itu sih! Foamnya banyak tapi ngga bikin kering, wanginya pun soothing, dan.... murah. Hehehe. Karena prinsip saya untuk face wash itu ngga perlu splurging dan harus over the counter products, semata-mata biar gampang dapetinnya. Daaaan... Senka ini sudah secara official masuk ke market Indonesia, jadi bisa mudah ditemukan di Watsons atau (mungkin) retail pharmacy lain.

2. Exfoliate 
Proses eksfoliasi dalam skincare regimen saya menggunakan acid toner. Kenapa harus acid toner? Simply because it’s the toner of 21st century. It’s the toner for millenials. Hahaha, kidding. Pokoknya, penggunaan acid toner ini tujuannya adalah untuk mengembalikan level pH kulit wajah kita. (normalnya pH kulit wajah kita di angka 4.2-5.6) Selain itu, penggunaan acid seperti glycolic, lactic, atau salicylic sangat berguna untuk mengurangi efek dari sun damage, memperbaiki permukaan kulit wajah (jadi lebih halus gitu deh), membersihkan pori-pori yang tersumbat, juga meningkatkan regenerasi sel kulit. 

You need to somewhat splurge for this step. Rata-rata memang acid toner yang punya kandungan aktif tinggi ngga ada yang murah sih (maksudnya murah = kurang dari 100 ribu). At the very least, affordable lah. Mungkin kalian bisa coba alternatif Korean acid toner dari Benton atau COSRX yang harganya di bawah 200 ribu. But… It didn’t work well on me :( Saya pernah pakai COSRX AHA/BHA Clarifying Treatment Toner tapi yang ada bikin breakout.

Sekarang saya sudah punya tambatan hati lain, yaitu The Ordinary Glycolic Acid 7% Toning Solution. Memang sih harganya hampir 2 kali lipat dari COSRX, tapi emang formula dan harga ngga bisa bohong tauk! Dari beberapa review yang saya baca, The Ordinary Glycolic Acid ini bisa dibilang dupe-nya Pixi Glow Tonic yang super hitz dan alhamdulillah, The Ordinary saya hampir ½ kali lebih murah dibanding Pixi. Jadi yaaa, say no more. This one’s worth buying!

Tips: bagi yang belum pernah pakai acid toner sebelumnya, disarankan pake yang kandungan acidnya mild dulu, because it will cause some tingling sensations when you apply it for the first time, perih-perih enak gemash gimana gitu. Atau kalau mau pake yang kandungan acid lebih tinggi, sebaiknya pemakaian jangan setiap hari, tapi selang-seling 1 hari pake, 1 hari skip. 

3. Tone 
Step selanjutnya bertujuan untuk menghidrasi kulit wajah setelah dieksfoliasi oleh acid toner. This one thing, you better be stealing it! Ngga perlu keluarin kocek mahal-mahal buat hydrating toner. Toner yang ada di pasaran sekarang banyak yang murah dan bagus kok. Tapi, tetep harus pinter-pinter milih ya, jangan sampe ambil hydrating toner yang punya kandungan alkohol berlebih. Yang ada ngga bikin muka kalian terhidrasi, tapi malah perih and of course, dry! Instead, carilah produk yang mengandung hyaluronic acid atau glycerin.

Produk yang saya gunakan adalah Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Lotion. Kalem aja, walaupun judulnya lotion tapi sebenernya dia fluid and it really is a hydrating toner. I would definitely rave this product for its virtue and holy affordable price! Saya sudah jadi pengguna setia toner Hada Labo ini bahkan sejak masih males-malesan pake skincare sampai sekarang. Muka saya jadi nyoy (bahasa apa pula ini), kenyal dan lembab banget deh berkat toner ini. Happy!

Tips: If you want something more organic (and cheap!) as hydrating toner, use rose water. 

4. Essence 
Sebenernya step ini super ngambang. Dilakukan juga ngga signifikan-signifikan amat hasilnya, tapi kalo ngga pake kok kurang mantep rasanya. Masalahnya saya sudah pakai essence ini jauh sebelum saya rajin pake serum atau pun acid toner. Dan essence ini lah yang membawa kembali kekenyalan kulit saya setelah beberapa tahun ngga rutin diurus! Hahaha. 

Let me introduce you to Avoskin Perfect Hydrating Treatment Essence. The only chemical thing I trusted to put on my face when nothing else did :”) produk ini memang memberikan kesan emosional yang mendalam sih buat saya pribadi, haha. Beberapa tahun lalu ketika wajah saya breakout parah and I had to deal with dullness also, this product came into my life and changed everything! Perlahan tapi pasti kondisi wajah saya makin membaik (dibarengi dengan rutin pake masker madu & oatmeal juga sih).

Harganya sebetulnya ngga murah juga, tapi dengan efek yang dia hasilkan, I think I would gladly spend my money on this! Dan, ini udah memasuki botol ketiga saya. Padahal 1 botol itu  habisnya baru 5-6 bulan. Kalo irit gini mah, jatohnya jadi ngga mahal kok.

5. Treatment 
Untuk step treatment ini, saya mengandalkan serum yang water-based. Saya rasa semua orang pasti sudah tau betapa tokcernya efek penggunaan serum secara rutin. Sayangnya banyak orang masih ngeluh: “Pake serum X yg reviewnya bagus ternyata bikin breakout di mukaku deh” blablabla. Nah, perlu dipahami dulu bahwa ngga seperti sebagian besar pemilihan produk skincare lain yang “harus menyesuaikan jenis kulit wajah”, kalau serum, kata Affi Assegaf, harus menyesuaikan problem kulit wajah. Jadi fungsi serum ini lebih fokus ke pertolongan pada kondisi kulit wajah yang ingin diperbaiki. Misalnya, jerawat, pori-pori besar, kerutan wajah, uneven skintone/discoloration, dll. Kalau kita sudah paham betul problem kulit wajah kita, pasti bisa menentukan serum mana yang akan cocok. Same goes with face oil ya, pilihlah face oil yang sesuai sama problem kulit wajah. Dulu saya merasa face oil itu basically serum juga sih menurut saya, cuma dia oil-based. Tapi makin kesini, saya lebih memposisikan face oil sebagai komplemen untuk moisturizer. Nanti akan saya bahas lebih lanjut di bawah.

Ada 3 produk yang saya pakai (secara bergantian) untuk step treatment. Yang pertama adalah OST Original Pure Vitamin C. Ya, serum mainstream dari Korea yang kayaknya semua orang pake karena emang tokcer banget sih. Dah gitu, super affordable untuk sebotol serum 30ml. Cukup tricky sih jadi pengguna serum vitamin C. Karena daya tahan dan juang produk ini tuh cukup singkat dan penyimpanannya kalau bisa sih di dalam kulkas (atau minimal di tempat yang sejuk dan gelap), supaya meminimalisasi potensi oksidasi. Setelah repurchase produk ini 3 kali, saya buat kepikiran buat ganti serum vitamin C. Mungkin setelah ini akan mencoba Votre Peau Vitamin C-Serum atau Klairs Freshly Juiced Vitamin C.

Yang kedua adalah The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1%. Ngga ngerti lagi deh, ini termanjur dan terngefek di wajah saya. Kenapa saya bilang gitu? Karena efeknya paling kelihatan lah, at least buat saya yang tiap hari megang dan lihat kulit wajah sendiri. Tekstur kulit jauh membaik, halus banget, pori-pori nyaris ngga kelihatan sama sekali setelah rutin Niacinamizing (aseeek, bahkan saya sampe bikin term kayak gini). Yang ketiga, masih produk dari brand yang sama, yaitu The Ordinary Lactic Acid 10% + HA 2%. You would never like this product in the first instance! Just like I did! Aromanya super ngga sedap dan perih saat dipake (udah bukan tingling lagi ini mah). Sampai sekarang pun saya susah menoleransi aromanya itu. Kayak bau susu basi dicampur alkohol. Hoekkk!
Tapi efeknya luar biasa! Lagi-lagi The Ordinary bikin saya jatuh cinta sama tekstur wajah saya sendiri.

Selain itu, saya juga punya “cadangan” oil-based serum a.k.a face oil dari Haple. Saya pakai yang Rice Bran Oil dan Grapeseed Oil. Fyi, Haple ini produk lokal lho, dan ngga kalah sama face oilnya Sukin ataupun Sunday Riley (ngaco dan sotoy banget, hahaha). But it’s a good deal, I promise! 

6. Moisturize 
Kebalikan dari serum, pilihlah pelembab yang sesuai dengan jenis kulit dan bukan problem kulit. Karena memang tugas pelembab ini lebih kepada coat & protection ketimbang treatment. 

Moisturizer is so basic. Super basic. Siapapun bahkan yang ngga rajin pake skincare biasanya hampir selalu punya pelembab. Because it’s that basic!! (I’m saying it in a good way) Karena efeknya emang paling langsung kerasa juga sih.

Walaupun basic, bagi saya ini paling susah cari produknya. Bukan apa-apa ya, tapi karena saking banyak dan macem-macem, saya jadi bingung. Dari yang produk lokal, Korea, Jepang, US, UK, Nigeria, Kenya, Turki, dari yang harganya ceban sampe jutaan pun ada. Dan sampe sekarang pun saya belum bener-bener punya tambatan hati untuk moisturizer </3 

Macem-macem banget produk pelembab yang pernah saya coba, sampe lupa apa aja. Terakhir kali saya pakai awal tahun 2017 lalu adalah The Body Shop Seaweed Oil-Control Gel Cream. Ini produk enak banget dan ngga bikin minyakan because it’s claimed as mattifying. Tapi pas habis, saya mau beli lagi, varian seaweed udah ngga ada di The Body Shop. Ternyata mereka lagi rebranding buat varian itu. Nah disitulah saya buru-buru cari yang aman dan mirip (dan murah), dan ketemu lah saya dengan… Wardah Hydrating Aloe Gel. Ketauan cari aman banget ya pake produk ini hehe. Sekarang ini saya hampir selalu punya dan pakai Wardah Hydrating Aloe Gel untuk pelembab, sambil masih cari-cari pelembab lain yang cocok dan bikin akuh jatuh cintah. Unch. Teksturnya gel, dingin, ringan, tapi super moisturizing! Murah pula (ini sih paling penting). So, why not? 

Anyway, ada satu produk pelembab yang lagi saya incer, yaitu The Goodness Every Morning Mositurizer. Semoga jodoh ya!

Tips: Your moisturizer should always absorb in the skin, not just sit on the surface! Coba apply pelembab kamu, tunggu 5 menit, dan pegang dan rasakan apakah masih terasa heavy di kulit. If yes, then it very well may be too rich for you. 

7. Protect (for daytime only) 
Sepele tapi paling bikin nyesel kalo lupa dipake: sunscreen.

Semua step yang kita lakukan dari cleansing sampe moisturizing akan sia-sia belaka kalau lupa pakai sunscreen. I won’t be talking much about this part, but if whoever read this still thinks that it’s not really important to put sunscreen on daily basis, PLEASE DON’T. From now on, take time to put on your sunscreen—less than a minute, but you will thank me later. 

Ada dua sunscreen andalan saya dari jaman baheula, dari jaman masih hobi arung jeram sampai sekarang, yaitu Skin Aqua Moisture Gel SPF 30 dan Biore UV Aqua Rich Watery Essence SPF 50+. Keduanya ringan banget dipakai, ngga bikin minyakan apalagi whitecast. Aromanya pun ngga gengges. Jadi, buat kalian yang mungkin males pake sunscreen karena alasan-alasan kayak gitu, coba deh pakai dua jenis sunscreen yang saya sebutin tadi. Insya Allah barokah. Hehe.

Nah, dari sekian banyak step yang saya jelaskan di atas, sebetulnya masih ada satu step lagi yang harusnya dipakai tiap hari juga tapi nggak (atau belum) saya lakukan, yaitu eyecream. Sampai sekarang masih pikir-pikir mau beli The Ordinary Caffeine Solution 5% + EGCG atau Clarins Super Restorative Total Eye Concentrate. Sebagai alternatif sih saya pakai face oil dan memfokuskan pemakaian di bagian under eye. Selama masih bisa pake concealer, saya masih ngga terlalu repot mikirin kantong mata :D
 
Weekly Treatment

Dari segambreng skincare regimen yang saya lakukan tiap hari, masih aja ada beberapa hal lain yang menurut saya penting itu dilakukan secara mingguan, baik 1x seminggu, atau 2-3x.

Biasanya seminggu atau dua minggu sekali saya ekfoliasi wajah pakai St Yves Apricot Fresh Skin Scrub. Karena teksurnya yang sedikit kasar, jadi emang ngga bisa sering-sering dipake di wajah dan pemakaiannya pun harus hati-hati banget, ngga boleh ngotot ngescrub muka saking pengen kinclong. (lu pikir gosok lantai WC)

Kalau pemakaian face mask, kadang saya ganti-gantian pake sheet mask atau clay mask. Sheet mask yang saya pakai macem-macem sih, tergantung belinya (atau dapetnya) apa. Kok dapet??? Ya soalnya suka ada yang nyumbang sheet mask ke saya gitu kalo habis pulang dari Korea. Alhamdulillah oppa. Tapi yang paling saya suka produk sheet mask dari Innisfree. Ngga usah pake karena ya, nanti jadi panjang penjelasannya :)

Face mask lain yang saya pakai adalah Sukin Super Greens Detoxifying Clay Masque. Saya ngga tau lagi harus mendeskripsikan produk ini seperti apa. Currently my HG mask! Kalau lagi jerawatan atau bruntusan, insya Allah langsung mereda. Tapi masih tetep kalah sih kalo dibanding Glam Glow Youthmud Tinglexfoliate Treatment. Sempat kepikiran untuk beli Glam Glow lagi, tapi selalu sayang ama duitnya :"(
Saat ini saya lagi pake Lush Mask of Magnaminty—belinya nitip juga sama yang lagi di Jepang, hehehe. Harganya pun ssesuai sama yang tercantum di websitenya. Saya gemesh banget sih sama Lush! Produknya organik tapi ngga senarsis itu buat nge-claim dirinya organik. And those minty feeling! Pokoknya mah kalau ada mint-mintya gitu, Rahma pasti suka. Masker ini kerasa ada sedikit butiran scrubnya, tapi pas diaplikasikan ke muka, mild banget kok, ngga terlalu kasar seperti scrub mask kebanyakan.

Nah untuk pemakaian mask ini biasa saya lakukan 2-3 seminggu kalau ngga males. Malesnya soalnya emang cukup butuh effort sih ngebersihin clay mask, apalagi si Sukin ini. Kalau lagi males banget, kadang saya cuma pakai The Face Shop Jeju Volcanic Lava Peel Off Clay Mask (buset, panjang amat judulnya!). Ini super simple karena peel off, jadi ngga repot ngebersihinnya.

Demikianlah skincare regimen saya. Cukup singkat kan? :)

After all, mau pakai produk apapun untuk perawatan wajah, kalau ngga dipakai rutin, it would be just another waste of a time. You will not be seeing the result soon enough, or worst, not at all. Because, nothing beats consistency in skincare. ;)

xoxo

Marching In

by - Sunday, March 08, 2015
Belakangan rumah terasa sekedar menjadi tempat numpang mandi, makan, dan tidur. Saya sampai lupa punya kesibukan apa saja sih sampai-sampai membuat susah pulang di bawah jam 10 malam. Kuliah, rapat KKN, konsol, latihan, nugas, dan tetekbengek perkuliahan-organisasi.

Jujur, 1 bulan ini sangat amat melelahkan. Dinamika psikologis yang terjadi di dalam diri saya saat ini sangat ngga sehat. 80% kegiatan yang saya lakukan belakangan bukan karena saya mau dan suka (kecuali ops dan ngarung, itu sih suka banget), tapi lebih karena saya harus melakukannya dan ujung-ujungnya menjadi sebuah keterpaksaan. Menyedihkan bukan?

Saya belum benar-benar selesai menganalisis kenapa bisa sampai seperti ini. Yang jelas bukan dampak masalah percintaan, ya. #uhuk

Bismillah, memasuki bulan baru (Maret) semoga saya bisa menata kondisi kejiwaan lagi. Mahasiswi Psikologi tingkat 3 loh.

Kodaline's All I Want and Some of My Chirps

by - Monday, April 29, 2013
I accidentally found this epic and heart-moving-kind-of-music video of a Dublin band, Kodaline, across my Twitter timeline. I love it so friggin much it brought me a lonely and lost story in such deep lyrics. Well I assume the song is actually about some break-up thing, huh?

And, these hands just can't help but post the video here because... (do not expect to hear some credible reasons regarding to me posting this since you might not want to) I've actually been wanting to write yet I can't really think up something new, original, and intriguing. Plus, I sorta don't have any idea what to do with the random ideas HERE *pointing at my own head*. LOL I'm being too honest. No, because I like it either the music video or the song itself and this is one of my ultimate favorites. So I think I should (at least) make a share post as my appreciation :)

Anyway, prepare rolls of tissue, darlings.

 Let's see.. It was @inestjokro who shared this if I'm not mistaken.

Some Husky Talk

by - Thursday, April 11, 2013
I've always wanted to have a real pet. Yes, a real pet in my dictionary = the fur-bearing ones whom I can always take a walk with. Or I can spesifically say, a puppy.

Aside from the fact that I fear sharp canine teeth, moulted furs, and dripping salivas... look at those beautiful, soft fur! Puppies almost become the only pet that strike. But please note that I, honestly, still can't make my guts to literally hold and touch them with my own hands T__T *so why bother having pets if you ain't holding em* *rolling eyes*

I often go surfing to some dog lovers' sites just to look around and check out some pictures of my favorites, like Siberian Husky, Jack Russel, or Akita. The latter was a race Hachiko owned, that famous and faithful dog from Japan. He's so famous that the governor made a Hachiko statue that's now standing upright outside Shibuya Station. Too bad I didn't have a chance to visit and take some shots back then in Japan :( I'm pretty a fan of him, though.

But nothing can beat my admiration to this dashing Russian knight, Siberian Husky.

Siberian Husky. The most handsomest.
The huskies came from extremely cold and harsh environment of the Siberian Arctic, and were forced to pull heavy loads for very long distances through difficult condition. Those seem to be a quite realistic reason why huskies nowadays are used as working dog and pretty muscular. They're also highly intelligent and can excel in some obedience trials (mostly for sled-racing). Siberian Huskies are recognizable by their thickly furred double coat, sickle tail, erect triangular ears, and distinctive markings. (the italic part is the description as quoted in Wikipedia, since I'm too common to describe something I ain't expert at. LOL)

Ah! And also, unlike any other regular dogs which bark, they howl instead! Cool, aren't they?

I'm not really sure since when I fell in love with huskies. Maybe after my junior crush in high school changed his Twitter username to SIBERI(an) (hu)SKY. Hahaha. Okay, just kidding.

I was so fascinated (to siberian husky, not my junior crush) I almost got into road accident with a public bus because I was after a car with a very gorgeous Siberian Husky in it. XD

My parents, especially my mother, doesn't really like seeing some furry living stuffs hanging around the house (except Choky and Chibi, persian cats of my aunt and my cousin, well-treated and proven to be 100% clean). That's why, I have only petted some "safe" animals like fish, hamsters, and turtles since I was little.

Besides, my family are all Moslems. There's a paradigm in society that kind of restricts us from keeping a dog at home, and that's also what has been becoming my belief until now. Though it's not really written in Quran (about the restriction), but most of the Moslem scholar and society have such notion.

Why is that?

Basically in Quran, dogs are said to be desecrated (from their saliva, but later I knew that it's actually the whole body of the dog as well). Although Rasulullah SAW had never prohibited to look after dogs, but from the shari'ah, Islam tend to watch over the beneficiaries of its adherents. That's why, the "law" was set to keep us from being uncleaned/desecrated. But, in some condition, keeping a dog at home is allowed when living in some rural area where it lacks guardians. (from what I read on a trusted literature)

So, conclusion is? Well, pull it out yourself :D 

Let's Do The Craft!

by - Saturday, July 28, 2012
Life after high school might not be good enough for me. Mkay, I graduated from high school already and was accepted in one of the most favorite colleges in town (or I may say, in country). Yay! That simply means I'm getting a very very long holiday (or just say I'm getting a leisure time) roughly 3 months, which I barely had in 12 years of school, until the college days officially start. So, congrats for me, maybe? :p

But after all, there must be a poor nick happening thou.... Yes, that practically makes me a full time jobless. Indeed.
Once I decided to be ~productive~ by getting a part time job but none of the job places I applied to response. *yes, laugh at me*
So here's this thing, three months being a lousy jobless somehow gets my crafty side to rise up.
I unintentionally found a crafter's blog while trolling some cute felt shops on Etsy. And seeing those cute handmade little felt dolls, felt pouches, suddenly urged me to make some on my own. (okay, I now sound like a cutie. Which sooo not me.)

I recalled I still had some felts, leftover fabrics and any other misspent crafting items. So why not start a personal workshop and do the crafts? That's how it all started.

tools_
The weapons.

First thing to make (or remake): my old agenda book.
I once had been flustered whether I should have a new agenda or just keep the old one. That's stoopid since I ended up whining to my friends because I was too distressed for not being able to decide about it myself. Stupid.
Anyway, here's the outcome.

agenda

Second thing(s): mini felt dolls.
They're too small and detailed I can't stand staring at them for hours to super-carefully sew them so that it'd come out pretty neat. And I have only made four so far :( and the other unfinished two.

Image1841
Say hi to the minies!

Well, I can't really tell what is this but I purposely made this for keeping my passport and my saving book as seen in the picture ;) (guess I'd just name it tweety passport case. Ugh, so cheap.)

p2-vert-horz
Lousy passport case.

And....... TADA!!!!! The so-called vintage pouch.
Cute, isn't it? ISN'T IT? Well I don't accept any answers other than a yes, because it's the prettiest thing I've made this far! Look at this ~fake~ floral Cath Kidston fabric on the inside! Straightly fell for it the moment I put a glance on the fabric piles... The vintage ribbon... Make it perfect in one step. So love it!

purse
LOVELY HANDMADE VINTAGE PURSE, whole-heartedly made by me.

Next project: knitting class!

May - Quick Update

by - Thursday, May 03, 2012
Hi!
Here's another quick update.

1. National exam is over. (well, it is like 2 weeks ago thou)

2. I didn't get to attend Super Show 4 due to some issues I had with my mom. That was pretty suck but then I realized fangirling life isn't merely about going to concerts or so. I have priorities anyway.

3. My addiction to SM's new boy group, EXO, is getting worse. Yes it is.

4. I'm currently in a maze of deciding to replace my old agenda book with a new one or to stay loyal with it. (this is such an important matter, at least for myself! :p)

5. Life after national exam is about hanging out-watching movies-going to cinema-culinary trip and most necessary is... working out! Yeah! Swimming, biking, skipping, jogging somehow work on me ;-)

6. Currently drooling for red coat/red cardi and any other red outfits! Preferably like these ones below ;) #SUPERKODE


7. Notice something new on my Tumblr page? Mixing up red with my fav color, navy. Yay!

8. Anyway, Iko Uwais and Park Chanyeol got my heart thumps really hard!!!! ♥ These two are clearly a contradiction thou, haha.

9. Bet most of 12th graders must be really busy with college enrollment stuffs. So am I. Sigh.

10. I miss school already :(

May The Odds Be Ever In Your Favor

by - Friday, April 06, 2012
The Hunger Games!

Final_posterweb

Like every movie devotee would love this one. Who wouldn't anyway? I even dare to give 9 out of 10 for this superb sci-fi movie! Indeed did it have an amazing plot, cool effects, great actors & actresses; those exactly make The Hunger Games a really good movie and really worth to watch.

Must be wondering then, how good is The Hunger Games (at least in my eyes)? Well, for me (at first), who hasn't even read the whole series of the books by Suzanne Collins (though I have bought the first book of the trilogy-- the translated one), The Hunger Games was more like a corporation between two of my favorite films, Avatar and Twilight Saga. No? Well okay it was just my glimpse when I firstly heard about this movie back then.

The Capitol somehow would be like Pandora in Avatar, the scientific technology (like when Katniss and other tributes were applied to a detector), hybrid things... That's pretty much Avatar-like. Just when a friend told me that there would also be a fuckin triangle love, my thought practically went to Twilight Saga. Make sense, eh?

Okay, I'm warning you I'm pretty awful at reviewing things (either it's movie or book). I basically don't like to review, I SPOIL INSTEAD :P So if you hate spoilers, just stop reading this post until this part, okay? That way won't hurt your curiousity.

Since I'm too reluctant to write a brief synopsis (that's why I told you I like to spoil instead!) which you can always find via Google, I'm just gonna quote some from Wikipedia. Here you go:

The Hunger Games takes place in a nation known as Panem after the destruction of North America by some unknown apocalyptic event. Panem consists of a wealthy Capitol and twelve surrounding, poorer districts. District 12, where the book begins, is located in the coal-rich region that was formerly Appalachia.

As punishment for a previous rebellion against the Capitol in which a 13th district was destroyed, one boy and one girl between the ages of 12 and 18 from each district are selected by annual lottery to participate in the Hunger Games, an event in which the participants (or "tributes") must fight in an outdoor arena controlled by the Capitol, until only one remains. The story follows 16-year-old Katniss Everdeen, a girl from District 12 who volunteers for the 74th annual Hunger Games in place of her younger sister, Primrose. Also selected from District 12 is Peeta Mellark, a baker's son whom Katniss knows from school, and who once gave her bread when her family was starving.
And.... the spoiler starts!

From the very beginning, the feeling of tense already arose. The reaping part is my favorite! When Prim (Katniss' little sister)'s name was actually called out during the reaping, then Katniss suddenly rose against it and volunteered herself as tributes as she said, "I VOLUNTEER! I volunteer as tributes!" that was just...... epic. I don't think I would be willing to sacrifice myself that far if I were Katniss. (Suck me is suck). Haha. Though I had watched the trailer where this scene is presented before, I still had this excitement in my nerves during the movie!!

My first impression of Peeta Mellark... full of doubt. Would this guy (Josh Hutcherson) make a strong character of Peeta? And as a shocking turns-out, he did well. He did BETTER than I ever expected, and my doubt vanished right away. (Anyway, kalian anak SMADA pasti pada ga percaya kalo saya bilang Peeta disitu agak mirip Afin, apalagi pas ketawa! Fika sebagai ceweknya aja mengiyakan, lho. Lol)

Favorite part of him: when he went incognito by the river (as he painted his head & face like a boulder, and cover up his body with lichens) and suddenly Katniss almost stepped on to him and he grabbed Katniss' leg and "BA!". LOL! Startling yet so funny! Both of their expression were so priceless! And later when Katniss asked by Caesar Flickerman what did she feel when she found Peeta by the river, "I felt like the happiest person on Earth." Isn't that sweeeet <3

My third favorite part after the reaping part and Peeta gone incogito is.... the dead scene of Rue :--------( Okay this is kind of silly, but I literally cried during this scene. Especially when Katniss put garland of flowers around Rue's dead body and addressed 3-fingers-regard (which I convinced as a condolence) to the District 11 people.

Noticed any other eye-candies? DEFINITELY YES!

Say, this movie provides you with LOTS of good looking dudes. Cato (Alexander Ludwig) as one of the antagonist roles, he came from District 2 with Clove (Isabelle Fuhrman, the girl with 'mental pembunuh', I name her :p). And then, Cinna (Lenny Kravitz-- GOSH HE'S HOT!), Seneca Crane (Wes Bentley), tribute guys from District 3 and 8 (if I'm not mistaken). And don't forget Gale (Liam Hemsworth)! The one who would have a so-called triangle love with Katniss and Peeta.

I don't really ship Gale-Katniss relationship thou, it's kind of whimsy, don't you think? Unlike the originally-built-feeling of Peeta to Katniss which is so cute! They make a nice couple! In fact, the approved-feeling of Katniss to Peeta was actually made for the games only :-(

As my fourth favorite part: when Katniss & Peeta kissed, just look at Gale's heartbroken expression. *ROFL*

Okay. OKAY. I've spoilt almost everything. There are still lots of my favorite scenes I want to share, tho :-( At last, you will never regret watching this movie. Instead, you will crave for the sequel and be rotten waiting 22th November 2013 to come. :-D

May the odds be ever in your favor.

First Trip of the (Failed) Backpackers!

by - Sunday, December 25, 2011
Jadi hari Kamis lalu tiba-tiba aja aku, Pungky, Shiro dan Riri memutuskan buat jadi backpacker dadakan, ke.... Solo. Iya cuma ke Solo. Namanya juga backpacker amatir, jadi ya nyoba yang deket-deket dulu hehe.
Sebenernya kalo mau dibilang dadakan ya enggak juga sih. Soalnya kita emang udah rencana jalan-jalan bareng ke Solo udah dari jauh-jauh hari dan naik mobil bukannya naik kereta. Tapi karena something happened 10 hours before the trip's started akhirnya setelah melewati kerempongan yang sedemikian rupa, akhirnya ya keputusan final: backpacking dan naik kereta ekonomi Pramex (Prambanan Express). Awalnya partisipannya (ceileeeeh partisipan) ada 8 orang (4 cowo, 4 cewe) lalu berkurang jadi 4 cewek semua. Tau kenapa? Itu cowok-cowok pada males masa kalo naik kereta, maunya naik mobil aja. Manja! Makanya mereka gak jadi ikut.

Sebagai wanita-wanita kuat dan pemberani, kita prepare kilat buat keesokan hari. Sebenernya tujuan utama kita ke Solo itu.... beli kain. Iya kain. Soalnya kalo nyari kain di BTC (Beteng Trade Center, semacam Pasar Beringharjo-nya Solo) itu lebih komplit dan banyak variasinya, dan tentunya harganya lebih murah dong asal kita pinter nawar!

Tapi, pas nyampe Stasiun Tugu dan habis beli tiket aja kita udah bikin kesalahan dengan beli tiket yang umum, tanpa tempat duduk alias berdiri! OMG. Dan kenapa Shiro juga gak ngingetin. Oke, kita masih menghadapinya dengan positif dan menyemangati diri kalo it's okay if we don't get the seat, pokoknya pas pulang harus naik Madiun Jaya yang full AC dan beli tiket yang seated. Sip.
Dan ternyata kita tidak sekuat yang dibayangkan. Berdiri satu jam di kereta dan menggendong backpack yang seberat karung beras berisi kamera, payung, snack, air mineral dsb bikin kita cukup kewer. Ohya sebenernya kita gak sepaham itu dengan daerah jalanan di Solo. Ya kalo aku pribadi, biasanya ke Solo naik mobil sama keluarga dan itupun cuma ke rumah sodara dan ujung-ujungnya main ke Grand Mall. Udah. Jadiiiiiii untuk mengakalinya, I had prepared a so-called guide yang akan memandu perjalanan kita selama di Solo. Hahaha dia adalah..... Faizal. Iya, dia kan aslinya orang Solo gitu, jadi resmilah dia jadi pemandu kita via WhatsApp.

Keluar dari Stasiun Purwosari, kita langsung cari makan siang di deket sana, yaitu di Dapur Solo. Habis itu kita langsung cari shelter Batik Solo Trans dan capcus ke Beteng, ya karena emang tujuan utama kita kesana. Setelah puter-puter cari kain macem-macem selama kurang lebih 2 jam kita memutuskan beli es krim di Kusuma Sari. Tau kan? Ya pasti tau dong, ini restoran dari jaman kite-kite kecil emang udah terkenal banget. Dan sebenernya es krim dan makanan disin gak begitu mahal, tapi karena status kita saat itu adalah backpackers, so we might consider this as our second fault as the backpackers.

Udah kan tuh ngadem di Kusuma Sari. And our next destination was Serabi Notosuman. But none of us remembered which way to take to get there! Bingung kesananya naik apa, niatnya sih kalo gak naik angkot ya naik becak (inget, kita ini backpackers jadi say NO for taxi!). Nah gara-gara si Pungky nih, dia tiba-tiba aja bilang, "Udah kali, gak papa jalan kaki, deket kok, aku inget tempatnya." Tapi sebagai seseorang yang hampir tiap hari melanglangbuana bersama dia dan tau benar instinct dia dalam hal nyari jalan and stuffs itu bener-bener minus, aku rada ragu buat mengiyakan saran dia. Tapi apa boleh di kata, karena begitu membaranya jiwa petualang kita ya kita capcus ke Notosuman JALAN KAKI. Saya ulang dan perjelas, JALAN KAKI DI SIANG HARI YANG PANASNYA MUNGKIN BISA NYAMPE 39º. Udah gitu salah jalan pulak! Untungnya orang Solo ramah-ramah, jadi kita gak usah segan kalo tanya jalan sama mereka.

And after having 30 minutes walk in an extremely hot day which almost burnt out our spirit and soul (okay, agak lebay), kita akhirnya nyampe juga di Notosuman. Tepatnya di Serabi Notosuman Ny. Handayani. Dan karena itu udah agak sore (sekitar jam setengah tiga-an), and because we needed to catch the 4PM flight, eh train, I meant, jadi kita buru-buru nyari angkot buat balik ke stasiun. Dan untuk dapet angkotnya kita masih harus jalan sekitar 500 meter ke Pasar Singosaren dulu. Mamaaaaaak ~_~ SEMANGAT! TETAP SEMANGAT! :')
Singkat cerita, kita dapet angkot and spent 20 minutes muter-muter kota Solo di dalem angkot yang sejuk dan akhirnya sampailah di Stasiun Purwosari. Niat awal kita pulang kan bakal naik Madiun Jaya yang full AC tuh, ternyata last train ke Jogja via Madiun Jaya itu jam 14:00. Sial!!!!! Akhirnya kita tetep naik Pramex dan beli tiket umum tapi rebutan. Iya rebutan. Jadi kita bisa aja beruntung langsung dapet seat atau agak kurang beruntung dan berdiri lagi.

Guess which ones were we? The unlucky ones.
Iye kita gak dapet seat dan terpaksa berdiri lagi. Dan kita baru bisa duduk enak pas udah nyampe Stasiun Maguwo. Ohlalala.... Disuyukuri sajalah :')


 We arrived hometown just right when the sun is set.

Last, walopun kita belom seahli itu buat jadi backpackers, but later kita bakal jalan-jalan dan have so many trips around the world, TOGETHER! (sebenernya ini mimpi saya dan Shiro doang, sih hehe). We'll keep on dreaming until our main aim is reached ;)

Photos taken with Nikon D5000.

R!

Fond Memories

by - Thursday, December 08, 2011
Went through my old blog and found some old photographs I took 3-4 years ago when I was still a junior high-er. Below aren't the original photos thou, I put some touch-ups with Photoshop to prettify them a little and just in case to make a more oldish feeling. Mystique.

Tamansari Water Castle, 2009.

 
Junior high's spot.

I didn't blatantly acknowledge that I liked and was keen on photography stuffs. I just loved and enjoyed putting memories into photographs, splattered to one object to another, and years later when I opened 'em back (like I'm doing right now) I would be recalled to the certain memories. 

And that is what a yearning starts with.
Syifana Rahma Addiyani. Powered by Blogger.