Where home is not home anymore.
When you’re significant other is not as significant, no more.
Koloray, Aku Rindu
by
Syifana Rahma Addiyani
- Monday, November 02, 2015
Bener-bener nggak kerasa sudah selama ini sejak terakhir kali saya meninggalkan sebuah pulau (saya lebih senang menyebutnya “rumah”) tempat saya mengabdi, bermain, belajar selama kurang lebih dua bulan. Kenangannya terlalu kuat sehingga masih membekas sampai detik ini.
Empat bulan yang lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menjejakkan kaki di salah satu tanah timur Indonesia, dan betapa beruntungnya saya karena tanah itu adalah Morotai (sebetulnya Manado sih-- karena pesawat sempat transit di sana, tapi anggaplah itu Morotai karena ini cerita tentang Morotai. Haha). Kesan pertama? Morotai was hot as hell! Entah karena memang panas BANGET atau karena sugesti orang-orang yang bilang kalau Morotai sangat panas, like... you’ve got seven fuckin suns right above your head. But indeed, it was hot. Really hot. My AccuWeather said that: 34 C.
Tapi rasa panas itu justru makin membakar semangat kami untuk sampai ke sebuah desa yang juga merupakan pulau yang akan menjadi rumah kami selama dua bulan, Desa (Pulau) Koloray. Pulau yang indah, sungguh. Tidak pernah terbersit sebelumnya kalau aku akan tinggal, literally tinggal, di sebuah pulau kecil yang hanya berpenghuni 200an KK, terbatas oleh berbagai macam akses, dengan iklim yang sungguh ekstrem panasnya. Tapi selama dua bulan, tempat ini lah yang mengajarkan saya betapa pentingnya menikmati segala keterbatasan yang ada, mengajarkan saya untuk hidup sederhana, menjadi sangat apa adanya-- tidak seperti kehidupan urban yang biasa saya jalani yang menuntut banyak hal dan hanya berujung pada pemenuhan nafsu sosial. Rumah ini juga mengajarkan saya bahwa kebahagiaan muncul bukan karena topeng “happy face” yang kita pakai, melainkan senyum tulus di balik topeng itu sendiri. Dan dengan segala kerendahan hati orang-orangnya, tempat ini mengajarkan saya bahwa hidup itu untuk berjuang dan kemudian mensyukurinya, mengajarkan saya bahwa what people will remember about you is not what you say but more of what you do. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Koloray, aku rindu. Someday I surely will come back.
Bener-bener nggak kerasa sudah selama ini sejak terakhir kali saya meninggalkan sebuah pulau (saya lebih senang menyebutnya “rumah”) tempat saya mengabdi, bermain, belajar selama kurang lebih dua bulan. Kenangannya terlalu kuat sehingga masih membekas sampai detik ini.
Empat bulan yang lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menjejakkan kaki di salah satu tanah timur Indonesia, dan betapa beruntungnya saya karena tanah itu adalah Morotai (sebetulnya Manado sih-- karena pesawat sempat transit di sana, tapi anggaplah itu Morotai karena ini cerita tentang Morotai. Haha). Kesan pertama? Morotai was hot as hell! Entah karena memang panas BANGET atau karena sugesti orang-orang yang bilang kalau Morotai sangat panas, like... you’ve got seven fuckin suns right above your head. But indeed, it was hot. Really hot. My AccuWeather said that: 34 C.
Tapi rasa panas itu justru makin membakar semangat kami untuk sampai ke sebuah desa yang juga merupakan pulau yang akan menjadi rumah kami selama dua bulan, Desa (Pulau) Koloray. Pulau yang indah, sungguh. Tidak pernah terbersit sebelumnya kalau aku akan tinggal, literally tinggal, di sebuah pulau kecil yang hanya berpenghuni 200an KK, terbatas oleh berbagai macam akses, dengan iklim yang sungguh ekstrem panasnya. Tapi selama dua bulan, tempat ini lah yang mengajarkan saya betapa pentingnya menikmati segala keterbatasan yang ada, mengajarkan saya untuk hidup sederhana, menjadi sangat apa adanya-- tidak seperti kehidupan urban yang biasa saya jalani yang menuntut banyak hal dan hanya berujung pada pemenuhan nafsu sosial. Rumah ini juga mengajarkan saya bahwa kebahagiaan muncul bukan karena topeng “happy face” yang kita pakai, melainkan senyum tulus di balik topeng itu sendiri. Dan dengan segala kerendahan hati orang-orangnya, tempat ini mengajarkan saya bahwa hidup itu untuk berjuang dan kemudian mensyukurinya, mengajarkan saya bahwa what people will remember about you is not what you say but more of what you do. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Koloray, aku rindu. Someday I surely will come back.
Sedikit Tentang Bunga
by
Syifana Rahma Addiyani
- Tuesday, April 14, 2015
Saya lupa kapan terakhir kali dapat bunga dari seseorang. Memang pada dasarnya saya bukan tipe wanita yang “ngidam” dikasih bunga sama cowo, sih. Pernah ada seseorang yang ngasih saya 1 tangkai mawar putih, tapi saya tolak. Di depan mukanya. Bukannya tidak suka, tapi malu. Kecuali kalau dia pacar saya, ya saya pasti dengan senang hati menerimanya. Lagian, cewe mana sih yang ngga suka dikasih bunga hahaha.
Beberapa waktu lalu ada yang mengirimkan saya satu buket bunga mawar merah. Tepat saat hari ulang tahun saya yang ke 21. Di lempar ke teras rumah pula (ngga sopan sih sebenarnya). Kebetulan si Mbak yang suka datang untuk bersih-bersih rumah yang memergoki buket bunga itu teronggok di teras.
Siapa?
Kalau saya tau mungkin saya tidak akan menulis tulisan ini. Yah, walaupun tujuan dari tulisan ini juga bukan untuk mencari siapa si pengirim bunga ini sih.
Kepada siapapun yang sudah berbaik hati memberi 1 buket bunga mawar merah dan sebuah pesan manis di hari ulang tahun saya, terima kasih :)
Saya lupa kapan terakhir kali dapat bunga dari seseorang. Memang pada dasarnya saya bukan tipe wanita yang “ngidam” dikasih bunga sama cowo, sih. Pernah ada seseorang yang ngasih saya 1 tangkai mawar putih, tapi saya tolak. Di depan mukanya. Bukannya tidak suka, tapi malu. Kecuali kalau dia pacar saya, ya saya pasti dengan senang hati menerimanya. Lagian, cewe mana sih yang ngga suka dikasih bunga hahaha.
Beberapa waktu lalu ada yang mengirimkan saya satu buket bunga mawar merah. Tepat saat hari ulang tahun saya yang ke 21. Di lempar ke teras rumah pula (ngga sopan sih sebenarnya). Kebetulan si Mbak yang suka datang untuk bersih-bersih rumah yang memergoki buket bunga itu teronggok di teras.
Siapa?
Kalau saya tau mungkin saya tidak akan menulis tulisan ini. Yah, walaupun tujuan dari tulisan ini juga bukan untuk mencari siapa si pengirim bunga ini sih.
Kepada siapapun yang sudah berbaik hati memberi 1 buket bunga mawar merah dan sebuah pesan manis di hari ulang tahun saya, terima kasih :)
Marching In
by
Syifana Rahma Addiyani
- Sunday, March 08, 2015
Belakangan rumah terasa sekedar menjadi tempat numpang mandi, makan, dan tidur. Saya sampai lupa punya kesibukan apa saja sih sampai-sampai membuat susah pulang di bawah jam 10 malam. Kuliah, rapat KKN, konsol, latihan, nugas, dan tetekbengek perkuliahan-organisasi.
Jujur, 1 bulan ini sangat amat melelahkan. Dinamika psikologis yang terjadi di dalam diri saya saat ini sangat ngga sehat. 80% kegiatan yang saya lakukan belakangan bukan karena saya mau dan suka (kecuali ops dan ngarung, itu sih suka banget), tapi lebih karena saya harus melakukannya dan ujung-ujungnya menjadi sebuah keterpaksaan. Menyedihkan bukan?
Saya belum benar-benar selesai menganalisis kenapa bisa sampai seperti ini. Yang jelas bukan dampak masalah percintaan, ya. #uhuk
Bismillah, memasuki bulan baru (Maret) semoga saya bisa menata kondisi kejiwaan lagi. Mahasiswi Psikologi tingkat 3 loh.
Belakangan rumah terasa sekedar menjadi tempat numpang mandi, makan, dan tidur. Saya sampai lupa punya kesibukan apa saja sih sampai-sampai membuat susah pulang di bawah jam 10 malam. Kuliah, rapat KKN, konsol, latihan, nugas, dan tetekbengek perkuliahan-organisasi.
Jujur, 1 bulan ini sangat amat melelahkan. Dinamika psikologis yang terjadi di dalam diri saya saat ini sangat ngga sehat. 80% kegiatan yang saya lakukan belakangan bukan karena saya mau dan suka (kecuali ops dan ngarung, itu sih suka banget), tapi lebih karena saya harus melakukannya dan ujung-ujungnya menjadi sebuah keterpaksaan. Menyedihkan bukan?
Saya belum benar-benar selesai menganalisis kenapa bisa sampai seperti ini. Yang jelas bukan dampak masalah percintaan, ya. #uhuk
Bismillah, memasuki bulan baru (Maret) semoga saya bisa menata kondisi kejiwaan lagi. Mahasiswi Psikologi tingkat 3 loh.
Morning Reflection
by
Syifana Rahma Addiyani
- Sunday, May 18, 2014
You lose one good person in your life, but you find another ones and even better.
Your once-a-good friend thinks you are a bad person and places yourself as his/her enemy now, but you find MORE than one person who trust and appreciate you in many other ways and always think you are good.
If we notice the pattern of all things revolved in our life, Allah would never let us suffer from sorrow and hardship for long standing. He even multiples the merits you may obtain so you don't have to worry over ONE unimportant matter and feel dejected :)
Be grateful everyday and He'll open the gate of unstoppable merits to your life.
You lose one good person in your life, but you find another ones and even better.
Your once-a-good friend thinks you are a bad person and places yourself as his/her enemy now, but you find MORE than one person who trust and appreciate you in many other ways and always think you are good.
If we notice the pattern of all things revolved in our life, Allah would never let us suffer from sorrow and hardship for long standing. He even multiples the merits you may obtain so you don't have to worry over ONE unimportant matter and feel dejected :)
Be grateful everyday and He'll open the gate of unstoppable merits to your life.
+
by
Syifana Rahma Addiyani
- Tuesday, December 31, 2013
I am the biggest procrastinator I've ever known in my life.
Menulis itu tidak susah sebenarnya. Menuangkan apa yang kamu pikirkan ke dalam rangkaian kata yang syahdu dan nyaman dibaca, itu yang menurutku susah. Apalagi jika yang kamu pikirkan dan ingin kamu tuliskan sudah mengendap di dalam otak berbulan-bulan.
Basi, kan, jadinya.
(Ditulis di tengah-tengah proses TC FUD Palapsi 2014)
I am the biggest procrastinator I've ever known in my life.
Menulis itu tidak susah sebenarnya. Menuangkan apa yang kamu pikirkan ke dalam rangkaian kata yang syahdu dan nyaman dibaca, itu yang menurutku susah. Apalagi jika yang kamu pikirkan dan ingin kamu tuliskan sudah mengendap di dalam otak berbulan-bulan.
Basi, kan, jadinya.
(Ditulis di tengah-tengah proses TC FUD Palapsi 2014)
Being an Early Adult
by
Syifana Rahma Addiyani
- Monday, June 10, 2013
Kadang-kadang saya bingung menjalani masa-masa 'usia tanggung' seperti sekarang ini. Mungkin 19 tahun sudah tidak bisa dibilang tanggung lagi sih. Kalau menurut psikologi perkembangan, 19 tahun termasuk dalam kategori dewasa awal. Bukan remaja tanggung yang hobinya labil kesana-kemari. Tetapi, di dalam siklus hidup saya agaknya saya belum sepenuhnya menjadi 'dewasa awal'. Yang saya tahu, adult (orang dewasa, kb.) dengan mature (dewasa, ks.) jelas berbeda. Dari arti katanya secara harafiah saja sudah berbeda, terlebih lagi 'makna' di dalamnya.
Nah, yang jadi pertanyaan, dewasa itu yang bagaimana ya? Atau lebih tepatnya, menjadi dewasa itu bagaimana ya?
Konsep dewasa, mature, dipikiran saya simple saja; mandiri dan bertanggung jawab akan apa yang jadi pilihannya. Jika mandiri = mampu hidup sendiri, mungkin saya kalah jauh dengan sebagian besar teman kampus saya yang merantau kuliah di Jogja dan ngekost. Karena hampir 19 tahun hidup saya dihabiskan di kota tercinta ini dan ada beberapa aspek yang saya masih gantungkan kepada orang tua. Dan mungkin itu menjadi salah satu faktor mengapa saya agak susah meninggalkan rumah untuk jarak yang jauh dan waktu yang lama. Tetapi jika menyangkut hal lain, bisa jadi saya lebih mandiri dibanding mereka. Who knows?
Kemudian, bertanggung jawab. Nah, mungkin bagi saya inilah tantangan terbesar dalam menuju proses pendewasaan, bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas hal sekecil apapun. Atas uang 500 perak milik seorang teman yang mungkin kita jatuhkan di selokan, atas piring kotor yang kita pakai setelah makan, atas pembagian kerja dalam mengerjakan tugas kelompok, atas keluhan-keluhan yang kita lontarkan ke orangtua.
Intinya, apa yang kamu putuskan ataupun lakukan, be responsible.
At last, do you consider yourself as matured already? *pertanyaan intrapersonal*
Kadang-kadang saya bingung menjalani masa-masa 'usia tanggung' seperti sekarang ini. Mungkin 19 tahun sudah tidak bisa dibilang tanggung lagi sih. Kalau menurut psikologi perkembangan, 19 tahun termasuk dalam kategori dewasa awal. Bukan remaja tanggung yang hobinya labil kesana-kemari. Tetapi, di dalam siklus hidup saya agaknya saya belum sepenuhnya menjadi 'dewasa awal'. Yang saya tahu, adult (orang dewasa, kb.) dengan mature (dewasa, ks.) jelas berbeda. Dari arti katanya secara harafiah saja sudah berbeda, terlebih lagi 'makna' di dalamnya.
Nah, yang jadi pertanyaan, dewasa itu yang bagaimana ya? Atau lebih tepatnya, menjadi dewasa itu bagaimana ya?
Konsep dewasa, mature, dipikiran saya simple saja; mandiri dan bertanggung jawab akan apa yang jadi pilihannya. Jika mandiri = mampu hidup sendiri, mungkin saya kalah jauh dengan sebagian besar teman kampus saya yang merantau kuliah di Jogja dan ngekost. Karena hampir 19 tahun hidup saya dihabiskan di kota tercinta ini dan ada beberapa aspek yang saya masih gantungkan kepada orang tua. Dan mungkin itu menjadi salah satu faktor mengapa saya agak susah meninggalkan rumah untuk jarak yang jauh dan waktu yang lama. Tetapi jika menyangkut hal lain, bisa jadi saya lebih mandiri dibanding mereka. Who knows?
Kemudian, bertanggung jawab. Nah, mungkin bagi saya inilah tantangan terbesar dalam menuju proses pendewasaan, bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas hal sekecil apapun. Atas uang 500 perak milik seorang teman yang mungkin kita jatuhkan di selokan, atas piring kotor yang kita pakai setelah makan, atas pembagian kerja dalam mengerjakan tugas kelompok, atas keluhan-keluhan yang kita lontarkan ke orangtua.
Intinya, apa yang kamu putuskan ataupun lakukan, be responsible.
At last, do you consider yourself as matured already? *pertanyaan intrapersonal*
Fiction (1)
by
Syifana Rahma Addiyani
- Wednesday, May 29, 2013
It was a long pause until he turns his head to see the front door.
There’s no footsteps...
She stares at his door.
I’m waiting... I want to count every footsteps you take until you get here...
She breaks down. She buries her face with her hand on the table.
I can’t hear it... I can’t hear your footsteps anymore...
She’s alone there, crying.
I thought you’d be here by now...
Full story will be posted real soon!
It was a long pause until he turns his head to see the front door.
There’s no footsteps...
She stares at his door.
I’m waiting... I want to count every footsteps you take until you get here...
She breaks down. She buries her face with her hand on the table.
I can’t hear it... I can’t hear your footsteps anymore...
She’s alone there, crying.
I thought you’d be here by now...
Full story will be posted real soon!
Well, pretty true.
by
Syifana Rahma Addiyani
- Thursday, May 23, 2013
”It’s hard to leave — until you leave. And then it’s the easiest goddamned thing in the world.“
Quentin Jacobsen, Paper Towns
”It’s hard to leave — until you leave. And then it’s the easiest goddamned thing in the world.“
Quentin Jacobsen, Paper Towns
A Common 'One Day' Story
by
Syifana Rahma Addiyani
- Wednesday, May 01, 2013
One day, a girl wants a boy to tell her his deepest thoughts. She wants to hear that he still loves her. She wants him to ask her questions about what's been going on so she can explain to him. She realizes that if he asks questions, it means he still cares and still wants to save the relationship.
She wants to go back to the way things were and hopes that by explaining everything to him, it will clear up any misunderstanding that may have occurred during their time apart.
Some people... They just see two completely different people, trying to make a what seems impossible relationship work. But, they can't understand that love for someone defies all logic and reasoning.
Happy Mayday.
One day, a girl wants a boy to tell her his deepest thoughts. She wants to hear that he still loves her. She wants him to ask her questions about what's been going on so she can explain to him. She realizes that if he asks questions, it means he still cares and still wants to save the relationship.
She wants to go back to the way things were and hopes that by explaining everything to him, it will clear up any misunderstanding that may have occurred during their time apart.
Some people... They just see two completely different people, trying to make a what seems impossible relationship work. But, they can't understand that love for someone defies all logic and reasoning.
Happy Mayday.
Some Husky Talk
by
Syifana Rahma Addiyani
- Thursday, April 11, 2013
I've always wanted to have a real pet. Yes, a real pet in my dictionary = the fur-bearing ones whom I can always take a walk with. Or I can spesifically say, a puppy.
Aside from the fact that I fear sharp canine teeth, moulted furs, and dripping salivas... look at those beautiful, soft fur! Puppies almost become the only pet that strike. But please note that I, honestly, still can't make my guts to literally hold and touch them with my own hands T__T *so why bother having pets if you ain't holding em* *rolling eyes*
I often go surfing to some dog lovers' sites just to look around and check out some pictures of my favorites, like Siberian Husky, Jack Russel, or Akita. The latter was a race Hachiko owned, that famous and faithful dog from Japan. He's so famous that the governor made a Hachiko statue that's now standing upright outside Shibuya Station. Too bad I didn't have a chance to visit and take some shots back then in Japan :( I'm pretty a fan of him, though.
But nothing can beat my admiration to this dashing Russian knight, Siberian Husky.
![]() |
Siberian Husky. The most handsomest.
|
The huskies came from extremely cold and harsh environment of the Siberian Arctic, and were forced to pull heavy loads for very long distances through difficult condition. Those seem to be a quite realistic reason why huskies nowadays are used as working dog and pretty muscular. They're also highly intelligent and can excel in some obedience trials (mostly for sled-racing). Siberian Huskies are recognizable by their thickly furred double coat, sickle tail, erect triangular ears, and distinctive markings. (the italic part is the description as quoted in Wikipedia, since I'm too common to describe something I ain't expert at. LOL)
Ah! And also, unlike any other regular dogs which bark, they howl instead! Cool, aren't they?
I'm not really sure since when I fell in love with huskies. Maybe after my junior crush in high school changed his Twitter username to SIBERI(an) (hu)SKY. Hahaha. Okay, just kidding.
I was so fascinated (to siberian husky, not my junior crush) I almost got into road accident with a public bus because I was after a car with a very gorgeous Siberian Husky in it. XD
My parents, especially my mother, doesn't really like seeing some furry living stuffs hanging around the house (except Choky and Chibi, persian cats of my aunt and my cousin, well-treated and proven to be 100% clean). That's why, I have only petted some "safe" animals like fish, hamsters, and turtles since I was little.
Besides, my family are all Moslems. There's a paradigm in society that kind of restricts us from keeping a dog at home, and that's also what has been becoming my belief until now. Though it's not really written in Quran (about the restriction), but most of the Moslem scholar and society have such notion.
Why is that?
Basically in Quran, dogs are said to be desecrated (from their saliva, but later I knew that it's actually the whole body of the dog as well). Although Rasulullah SAW had never prohibited to look after dogs, but from the shari'ah, Islam tend to watch over the beneficiaries of its adherents. That's why, the "law" was set to keep us from being uncleaned/desecrated. But, in some condition, keeping a dog at home is allowed when living in some rural area where it lacks guardians. (from what I read on a trusted literature)
So, conclusion is? Well, pull it out yourself :D
I've always wanted to have a real pet. Yes, a real pet in my dictionary = the fur-bearing ones whom I can always take a walk with. Or I can spesifically say, a puppy.
Aside from the fact that I fear sharp canine teeth, moulted furs, and dripping salivas... look at those beautiful, soft fur! Puppies almost become the only pet that strike. But please note that I, honestly, still can't make my guts to literally hold and touch them with my own hands T__T *so why bother having pets if you ain't holding em* *rolling eyes*
I often go surfing to some dog lovers' sites just to look around and check out some pictures of my favorites, like Siberian Husky, Jack Russel, or Akita. The latter was a race Hachiko owned, that famous and faithful dog from Japan. He's so famous that the governor made a Hachiko statue that's now standing upright outside Shibuya Station. Too bad I didn't have a chance to visit and take some shots back then in Japan :( I'm pretty a fan of him, though.
But nothing can beat my admiration to this dashing Russian knight, Siberian Husky.
![]() |
Siberian Husky. The most handsomest.
|
The huskies came from extremely cold and harsh environment of the Siberian Arctic, and were forced to pull heavy loads for very long distances through difficult condition. Those seem to be a quite realistic reason why huskies nowadays are used as working dog and pretty muscular. They're also highly intelligent and can excel in some obedience trials (mostly for sled-racing). Siberian Huskies are recognizable by their thickly furred double coat, sickle tail, erect triangular ears, and distinctive markings. (the italic part is the description as quoted in Wikipedia, since I'm too common to describe something I ain't expert at. LOL)
Ah! And also, unlike any other regular dogs which bark, they howl instead! Cool, aren't they?
I'm not really sure since when I fell in love with huskies. Maybe after my junior crush in high school changed his Twitter username to SIBERI(an) (hu)SKY. Hahaha. Okay, just kidding.
I was so fascinated (to siberian husky, not my junior crush) I almost got into road accident with a public bus because I was after a car with a very gorgeous Siberian Husky in it. XD
My parents, especially my mother, doesn't really like seeing some furry living stuffs hanging around the house (except Choky and Chibi, persian cats of my aunt and my cousin, well-treated and proven to be 100% clean). That's why, I have only petted some "safe" animals like fish, hamsters, and turtles since I was little.
Besides, my family are all Moslems. There's a paradigm in society that kind of restricts us from keeping a dog at home, and that's also what has been becoming my belief until now. Though it's not really written in Quran (about the restriction), but most of the Moslem scholar and society have such notion.
Why is that?
Basically in Quran, dogs are said to be desecrated (from their saliva, but later I knew that it's actually the whole body of the dog as well). Although Rasulullah SAW had never prohibited to look after dogs, but from the shari'ah, Islam tend to watch over the beneficiaries of its adherents. That's why, the "law" was set to keep us from being uncleaned/desecrated. But, in some condition, keeping a dog at home is allowed when living in some rural area where it lacks guardians. (from what I read on a trusted literature)
So, conclusion is? Well, pull it out yourself :D
904
by
Syifana Rahma Addiyani
- Tuesday, April 09, 2013
I really can't stand feeling and looking so weak,
doing something I love but end up indiscernible,
being put low,
and then... getting dashed down.
I really can't stand feeling and looking so weak,
doing something I love but end up indiscernible,
being put low,
and then... getting dashed down.
Let's Do The Craft!
by
Syifana Rahma Addiyani
- Saturday, July 28, 2012
Life after high school might not be good enough for me. Mkay, I graduated from high school already and was accepted in one of the most favorite colleges in town (or I may say, in country). Yay! That simply means I'm getting a very very long holiday (or just say I'm getting a leisure time) roughly 3 months, which I barely had in 12 years of school, until the college days officially start. So, congrats for me, maybe? :p
But after all, there must be a poor nick happening thou.... Yes, that practically makes me a full time jobless. Indeed.
Once I decided to be ~productive~ by getting a part time job but none of the job places I applied to response. *yes, laugh at me*
So here's this thing, three months being a lousy jobless somehow gets my crafty side to rise up.
I unintentionally found a crafter's blog while trolling some cute felt shops on Etsy. And seeing those cute handmade little felt dolls, felt pouches, suddenly urged me to make some on my own. (okay, I now sound like a cutie. Which sooo not me.)
I recalled I still had some felts, leftover fabrics and any other misspent crafting items. So why not start a personal workshop and do the crafts? That's how it all started.
I recalled I still had some felts, leftover fabrics and any other misspent crafting items. So why not start a personal workshop and do the crafts? That's how it all started.
The weapons.
First thing to make (or remake): my old agenda book.
I once had been flustered whether I should have a new agenda or just keep the old one. That's stoopid since I ended up whining to my friends because I was too distressed for not being able to decide about it myself. Stupid.
Anyway, here's the outcome.
Anyway, here's the outcome.
Second thing(s): mini felt dolls.
They're too small and detailed I can't stand staring at them for hours to super-carefully sew them so that it'd come out pretty neat. And I have only made four so far :( and the other unfinished two.
Say hi to the minies!
Well, I can't really tell what is this but I purposely made this for keeping my passport and my saving book as seen in the picture ;) (guess I'd just name it tweety passport case. Ugh, so cheap.)
Lousy passport case.
And....... TADA!!!!! The so-called vintage pouch.
Cute, isn't it? ISN'T IT? Well I don't accept any answers other than a yes, because it's the prettiest thing I've made this far! Look at this ~fake~ floral Cath Kidston fabric on the inside! Straightly fell for it the moment I put a glance on the fabric piles... The vintage ribbon... Make it perfect in one step. So love it!
LOVELY HANDMADE VINTAGE PURSE, whole-heartedly made by me.
Next project: knitting class!
Life after high school might not be good enough for me. Mkay, I graduated from high school already and was accepted in one of the most favorite colleges in town (or I may say, in country). Yay! That simply means I'm getting a very very long holiday (or just say I'm getting a leisure time) roughly 3 months, which I barely had in 12 years of school, until the college days officially start. So, congrats for me, maybe? :p
But after all, there must be a poor nick happening thou.... Yes, that practically makes me a full time jobless. Indeed.
Once I decided to be ~productive~ by getting a part time job but none of the job places I applied to response. *yes, laugh at me*
So here's this thing, three months being a lousy jobless somehow gets my crafty side to rise up.
I unintentionally found a crafter's blog while trolling some cute felt shops on Etsy. And seeing those cute handmade little felt dolls, felt pouches, suddenly urged me to make some on my own. (okay, I now sound like a cutie. Which sooo not me.)
I recalled I still had some felts, leftover fabrics and any other misspent crafting items. So why not start a personal workshop and do the crafts? That's how it all started.
I recalled I still had some felts, leftover fabrics and any other misspent crafting items. So why not start a personal workshop and do the crafts? That's how it all started.
The weapons.
First thing to make (or remake): my old agenda book.
I once had been flustered whether I should have a new agenda or just keep the old one. That's stoopid since I ended up whining to my friends because I was too distressed for not being able to decide about it myself. Stupid.
Anyway, here's the outcome.
Anyway, here's the outcome.
Second thing(s): mini felt dolls.
They're too small and detailed I can't stand staring at them for hours to super-carefully sew them so that it'd come out pretty neat. And I have only made four so far :( and the other unfinished two.
Say hi to the minies!
Well, I can't really tell what is this but I purposely made this for keeping my passport and my saving book as seen in the picture ;) (guess I'd just name it tweety passport case. Ugh, so cheap.)
Lousy passport case.
And....... TADA!!!!! The so-called vintage pouch.
Cute, isn't it? ISN'T IT? Well I don't accept any answers other than a yes, because it's the prettiest thing I've made this far! Look at this ~fake~ floral Cath Kidston fabric on the inside! Straightly fell for it the moment I put a glance on the fabric piles... The vintage ribbon... Make it perfect in one step. So love it!
LOVELY HANDMADE VINTAGE PURSE, whole-heartedly made by me.
Next project: knitting class!
May - Quick Update
by
Syifana Rahma Addiyani
- Thursday, May 03, 2012
Hi!
Here's another quick update.
Hi!Here's another quick update.
1. National exam is over. (well, it is like 2 weeks ago thou)
2. I didn't get to attend Super Show 4 due to some issues I had with my mom. That was pretty suck but then I realized fangirling life isn't merely about going to concerts or so. I have priorities anyway.
3. My addiction to SM's new boy group, EXO, is getting worse. Yes it is.
4. I'm currently in a maze of deciding to replace my old agenda book with a new one or to stay loyal with it. (this is such an important matter, at least for myself! :p)
5. Life after national exam is about hanging out-watching movies-going to cinema-culinary trip and most necessary is... working out! Yeah! Swimming, biking, skipping, jogging somehow work on me ;-)
6. Currently drooling for red coat/red cardi and any other red outfits! Preferably like these ones below ;) #SUPERKODE
7. Notice something new on my Tumblr page? Mixing up red with my fav color, navy. Yay!
8. Anyway, Iko Uwais and Park Chanyeol got my heart thumps really hard!!!! ♥ These two are clearly a contradiction thou, haha.
9. Bet most of 12th graders must be really busy with college enrollment stuffs. So am I. Sigh.
10. I miss school already :(
Here's another quick update.
1. National exam is over. (well, it is like 2 weeks ago thou)
2. I didn't get to attend Super Show 4 due to some issues I had with my mom. That was pretty suck but then I realized fangirling life isn't merely about going to concerts or so. I have priorities anyway.
3. My addiction to SM's new boy group, EXO, is getting worse. Yes it is.
4. I'm currently in a maze of deciding to replace my old agenda book with a new one or to stay loyal with it. (this is such an important matter, at least for myself! :p)
5. Life after national exam is about hanging out-watching movies-going to cinema-culinary trip and most necessary is... working out! Yeah! Swimming, biking, skipping, jogging somehow work on me ;-)
6. Currently drooling for red coat/red cardi and any other red outfits! Preferably like these ones below ;) #SUPERKODE
7. Notice something new on my Tumblr page? Mixing up red with my fav color, navy. Yay!
8. Anyway, Iko Uwais and Park Chanyeol got my heart thumps really hard!!!! ♥ These two are clearly a contradiction thou, haha.
9. Bet most of 12th graders must be really busy with college enrollment stuffs. So am I. Sigh.
10. I miss school already :(
Bon Appétit!
by
Syifana Rahma Addiyani
- Sunday, March 25, 2012
Tylek & Tylecek Café, Aichii, Japan
2010
First Trip of the (Failed) Backpackers!
by
Syifana Rahma Addiyani
- Sunday, December 25, 2011
Jadi hari Kamis lalu tiba-tiba aja aku,
Pungky, Shiro dan Riri memutuskan buat jadi backpacker dadakan, ke....
Solo. Iya cuma ke Solo. Namanya juga backpacker amatir, jadi ya nyoba
yang deket-deket dulu hehe.
Sebenernya
kalo mau dibilang dadakan ya enggak juga sih. Soalnya kita emang udah
rencana jalan-jalan bareng ke Solo udah dari jauh-jauh hari dan naik
mobil bukannya naik kereta. Tapi karena something happened 10 hours
before the trip's started akhirnya setelah melewati kerempongan yang
sedemikian rupa, akhirnya ya keputusan final: backpacking dan naik
kereta ekonomi Pramex (Prambanan Express). Awalnya partisipannya
(ceileeeeh partisipan) ada 8 orang (4 cowo, 4 cewe) lalu berkurang jadi 4
cewek semua. Tau kenapa? Itu cowok-cowok pada males masa kalo naik
kereta, maunya naik mobil aja. Manja! Makanya mereka gak jadi ikut.
Sebagai
wanita-wanita kuat dan pemberani, kita prepare kilat buat keesokan
hari. Sebenernya tujuan utama kita ke Solo itu.... beli kain. Iya kain.
Soalnya kalo nyari kain di BTC (Beteng Trade Center, semacam
Pasar Beringharjo-nya Solo) itu lebih komplit dan banyak variasinya, dan
tentunya harganya lebih murah dong asal kita pinter nawar!
Tapi,
pas nyampe Stasiun Tugu dan habis beli tiket aja kita udah bikin
kesalahan dengan beli tiket yang umum, tanpa tempat duduk alias berdiri!
OMG. Dan kenapa Shiro juga gak ngingetin. Oke, kita masih menghadapinya
dengan positif dan menyemangati diri kalo it's okay if we don't get the
seat, pokoknya pas pulang harus naik Madiun Jaya yang full AC dan beli
tiket yang seated. Sip.
Dan
ternyata kita tidak sekuat yang dibayangkan. Berdiri satu jam di kereta
dan menggendong backpack yang seberat karung beras berisi kamera,
payung, snack, air mineral dsb bikin kita cukup kewer. Ohya sebenernya
kita gak sepaham itu dengan daerah jalanan di Solo. Ya
kalo aku pribadi, biasanya ke Solo naik mobil sama keluarga dan itupun
cuma ke rumah sodara dan ujung-ujungnya main ke Grand Mall. Udah.
Jadiiiiiii untuk mengakalinya, I had prepared a so-called guide
yang akan
memandu perjalanan kita selama di Solo. Hahaha dia adalah..... Faizal.
Iya, dia kan aslinya orang Solo gitu, jadi resmilah dia jadi pemandu
kita via WhatsApp.
Keluar
dari Stasiun Purwosari, kita langsung cari makan siang di deket sana,
yaitu di Dapur Solo. Habis itu kita langsung cari shelter Batik Solo
Trans dan capcus ke Beteng, ya karena emang tujuan utama kita kesana.
Setelah puter-puter cari kain macem-macem selama kurang lebih 2 jam kita
memutuskan beli es krim di Kusuma Sari. Tau kan? Ya pasti tau dong, ini restoran dari jaman kite-kite
kecil emang udah terkenal banget. Dan sebenernya es krim dan makanan
disin gak begitu mahal, tapi karena status kita saat itu adalah
backpackers, so we might consider this as our second fault as the backpackers.
Udah kan tuh ngadem di Kusuma Sari. And our next destination was Serabi Notosuman. But none of us remembered which way to take to get there! Bingung kesananya naik apa, niatnya sih kalo gak naik angkot ya naik becak (inget, kita ini backpackers jadi say NO for taxi!). Nah gara-gara si Pungky nih, dia tiba-tiba aja bilang, "Udah kali, gak papa jalan kaki, deket kok, aku inget tempatnya." Tapi sebagai seseorang yang hampir tiap hari melanglangbuana bersama dia dan tau benar instinct dia dalam hal nyari jalan and stuffs itu bener-bener minus, aku rada ragu buat mengiyakan saran dia. Tapi apa boleh di kata, karena begitu membaranya jiwa petualang kita ya kita capcus ke Notosuman JALAN KAKI. Saya ulang dan perjelas, JALAN KAKI DI SIANG HARI YANG PANASNYA MUNGKIN BISA NYAMPE 39º. Udah gitu salah jalan pulak! Untungnya orang Solo ramah-ramah, jadi kita gak usah segan kalo tanya jalan sama mereka.
And after having 30 minutes walk in an extremely hot day which almost burnt out our spirit and soul (okay, agak lebay), kita akhirnya nyampe juga di Notosuman. Tepatnya di Serabi Notosuman Ny. Handayani. Dan karena itu udah agak sore (sekitar jam setengah tiga-an), and because we needed to catch the 4PM flight, eh train, I meant, jadi kita buru-buru nyari angkot buat balik ke stasiun. Dan untuk dapet angkotnya kita masih harus jalan sekitar 500 meter ke Pasar Singosaren dulu. Mamaaaaaak ~_~ SEMANGAT! TETAP SEMANGAT! :')
Singkat cerita, kita dapet angkot and spent 20 minutes muter-muter kota Solo di dalem angkot yang sejuk dan akhirnya sampailah di Stasiun Purwosari. Niat awal kita pulang kan bakal naik Madiun Jaya yang full AC tuh, ternyata last train ke Jogja via Madiun Jaya itu jam 14:00. Sial!!!!! Akhirnya kita tetep naik Pramex dan beli tiket umum tapi rebutan. Iya rebutan. Jadi kita bisa aja beruntung langsung dapet seat atau agak kurang beruntung dan berdiri lagi.
Guess which ones were we? The unlucky ones.
Iye kita gak dapet seat dan terpaksa berdiri lagi. Dan kita baru bisa duduk enak pas udah nyampe Stasiun Maguwo. Ohlalala.... Disuyukuri sajalah :')
We arrived hometown just right when the sun is set.
Last, walopun kita belom seahli itu buat jadi backpackers, but later kita bakal jalan-jalan dan have so many trips around the world, TOGETHER! (sebenernya ini mimpi saya dan Shiro doang, sih hehe). We'll keep on dreaming until our main aim is reached ;)
Photos taken with Nikon D5000.
R!
Jadi hari Kamis lalu tiba-tiba aja aku,
Pungky, Shiro dan Riri memutuskan buat jadi backpacker dadakan, ke....
Solo. Iya cuma ke Solo. Namanya juga backpacker amatir, jadi ya nyoba
yang deket-deket dulu hehe.
Sebenernya
kalo mau dibilang dadakan ya enggak juga sih. Soalnya kita emang udah
rencana jalan-jalan bareng ke Solo udah dari jauh-jauh hari dan naik
mobil bukannya naik kereta. Tapi karena something happened 10 hours
before the trip's started akhirnya setelah melewati kerempongan yang
sedemikian rupa, akhirnya ya keputusan final: backpacking dan naik
kereta ekonomi Pramex (Prambanan Express). Awalnya partisipannya
(ceileeeeh partisipan) ada 8 orang (4 cowo, 4 cewe) lalu berkurang jadi 4
cewek semua. Tau kenapa? Itu cowok-cowok pada males masa kalo naik
kereta, maunya naik mobil aja. Manja! Makanya mereka gak jadi ikut.
Sebagai
wanita-wanita kuat dan pemberani, kita prepare kilat buat keesokan
hari. Sebenernya tujuan utama kita ke Solo itu.... beli kain. Iya kain.
Soalnya kalo nyari kain di BTC (Beteng Trade Center, semacam
Pasar Beringharjo-nya Solo) itu lebih komplit dan banyak variasinya, dan
tentunya harganya lebih murah dong asal kita pinter nawar!
Tapi,
pas nyampe Stasiun Tugu dan habis beli tiket aja kita udah bikin
kesalahan dengan beli tiket yang umum, tanpa tempat duduk alias berdiri!
OMG. Dan kenapa Shiro juga gak ngingetin. Oke, kita masih menghadapinya
dengan positif dan menyemangati diri kalo it's okay if we don't get the
seat, pokoknya pas pulang harus naik Madiun Jaya yang full AC dan beli
tiket yang seated. Sip.
Dan
ternyata kita tidak sekuat yang dibayangkan. Berdiri satu jam di kereta
dan menggendong backpack yang seberat karung beras berisi kamera,
payung, snack, air mineral dsb bikin kita cukup kewer. Ohya sebenernya
kita gak sepaham itu dengan daerah jalanan di Solo. Ya
kalo aku pribadi, biasanya ke Solo naik mobil sama keluarga dan itupun
cuma ke rumah sodara dan ujung-ujungnya main ke Grand Mall. Udah.
Jadiiiiiii untuk mengakalinya, I had prepared a so-called guide
yang akan
memandu perjalanan kita selama di Solo. Hahaha dia adalah..... Faizal.
Iya, dia kan aslinya orang Solo gitu, jadi resmilah dia jadi pemandu
kita via WhatsApp.
Keluar
dari Stasiun Purwosari, kita langsung cari makan siang di deket sana,
yaitu di Dapur Solo. Habis itu kita langsung cari shelter Batik Solo
Trans dan capcus ke Beteng, ya karena emang tujuan utama kita kesana.
Setelah puter-puter cari kain macem-macem selama kurang lebih 2 jam kita
memutuskan beli es krim di Kusuma Sari. Tau kan? Ya pasti tau dong, ini restoran dari jaman kite-kite
kecil emang udah terkenal banget. Dan sebenernya es krim dan makanan
disin gak begitu mahal, tapi karena status kita saat itu adalah
backpackers, so we might consider this as our second fault as the backpackers.
Udah kan tuh ngadem di Kusuma Sari. And our next destination was Serabi Notosuman. But none of us remembered which way to take to get there! Bingung kesananya naik apa, niatnya sih kalo gak naik angkot ya naik becak (inget, kita ini backpackers jadi say NO for taxi!). Nah gara-gara si Pungky nih, dia tiba-tiba aja bilang, "Udah kali, gak papa jalan kaki, deket kok, aku inget tempatnya." Tapi sebagai seseorang yang hampir tiap hari melanglangbuana bersama dia dan tau benar instinct dia dalam hal nyari jalan and stuffs itu bener-bener minus, aku rada ragu buat mengiyakan saran dia. Tapi apa boleh di kata, karena begitu membaranya jiwa petualang kita ya kita capcus ke Notosuman JALAN KAKI. Saya ulang dan perjelas, JALAN KAKI DI SIANG HARI YANG PANASNYA MUNGKIN BISA NYAMPE 39º. Udah gitu salah jalan pulak! Untungnya orang Solo ramah-ramah, jadi kita gak usah segan kalo tanya jalan sama mereka.
And after having 30 minutes walk in an extremely hot day which almost burnt out our spirit and soul (okay, agak lebay), kita akhirnya nyampe juga di Notosuman. Tepatnya di Serabi Notosuman Ny. Handayani. Dan karena itu udah agak sore (sekitar jam setengah tiga-an), and because we needed to catch the 4PM flight, eh train, I meant, jadi kita buru-buru nyari angkot buat balik ke stasiun. Dan untuk dapet angkotnya kita masih harus jalan sekitar 500 meter ke Pasar Singosaren dulu. Mamaaaaaak ~_~ SEMANGAT! TETAP SEMANGAT! :')
Singkat cerita, kita dapet angkot and spent 20 minutes muter-muter kota Solo di dalem angkot yang sejuk dan akhirnya sampailah di Stasiun Purwosari. Niat awal kita pulang kan bakal naik Madiun Jaya yang full AC tuh, ternyata last train ke Jogja via Madiun Jaya itu jam 14:00. Sial!!!!! Akhirnya kita tetep naik Pramex dan beli tiket umum tapi rebutan. Iya rebutan. Jadi kita bisa aja beruntung langsung dapet seat atau agak kurang beruntung dan berdiri lagi.
Guess which ones were we? The unlucky ones.
Iye kita gak dapet seat dan terpaksa berdiri lagi. Dan kita baru bisa duduk enak pas udah nyampe Stasiun Maguwo. Ohlalala.... Disuyukuri sajalah :')
We arrived hometown just right when the sun is set.
Last, walopun kita belom seahli itu buat jadi backpackers, but later kita bakal jalan-jalan dan have so many trips around the world, TOGETHER! (sebenernya ini mimpi saya dan Shiro doang, sih hehe). We'll keep on dreaming until our main aim is reached ;)
Photos taken with Nikon D5000.
R!
Principle
by
Syifana Rahma Addiyani
- Tuesday, December 20, 2011
Kemaren sore temen saya Rifia (@arifianindita)
nge-retweet salah satu tweet orang dan tweetnya captured my eyes in a
second, "Kisah nyata ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Kota
Pekalongan" and the person provided it with the link as well. Langsung
aja kan aku buka linknya saking penasarannya. Dan setelah baca emang
bener-bener must read ini! Langsung aja aku kutip ya dari sini.
I was really really surprised after reading the article. Udah susah kali ya buat nyari seorang sosok yang punya pemikiran dan prinsip kayak Alm. Brigadir Royadi ini. Jaman sekarang entah itu petinggi negara, pejabat, bawahan, pegawai negeri atau apapun jarang banget ada yang bisa benar-benar mengabdi untuk pekerjaannya seperti beliau. And also, he's so principled and distinct in building the justice. Nggak peduli siapa yang lagi dia hadapi, kalo orang itu salah ya sudah sepantasnya diperingatkan layaknya orang yang lain (dengan kesalahan yang serupa). Dan mari menilik dari sisi sang 'sinuwun', yakni Sultan HB IX. Sebagai seorang penguasa dan raja pada masa itu, beliau juga begitu berhati besar dan nggak make kekuasaannya dan jabatannya semena-mena untuk sebuah kesalahan yang wajar kalo dilakuin orang biasa. Istilah Jawanya, 'ora dumeh'.
Ya harapan saya sebagai remaja yang aslinya nggak tau banyak tentang permasalan negeri ini, yang cuma tau berita-berita dari televisi dan koran, semoga nantinya nggak akan ada lagi pemerintah yang dzalim sama negara dan menghalalkan segala cara untuk bisa tetap 'di atas' hanya karena mereka punya tahta di pemerintahan.
At last, it's actually about a principle. True?
Kemaren sore temen saya Rifia (@arifianindita)
nge-retweet salah satu tweet orang dan tweetnya captured my eyes in a
second, "Kisah nyata ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Kota
Pekalongan" and the person provided it with the link as well. Langsung
aja kan aku buka linknya saking penasarannya. Dan setelah baca emang
bener-bener must read ini! Langsung aja aku kutip ya dari sini.Kota Batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis. Pukul setengah enam pagi, polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas Pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.
Becak dan delman amat dominan masa itu, persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan di tepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti di hadapannya.
Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
"Selamat pagi!" Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. "Boleh ditunjukan rebuwes!" Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca, pada jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.
Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.
"Ada apa, Pak Polisi?" tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah… Sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.
"Bapak melanggar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.
Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sultan menolak.
"Ya, saya salah, lamu benar. Saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.
"Jadi…?" Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi Brigadir Royadin menjawabnya.
"Em..emm.. Bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan rajapun beliau tidak melakukannya.
"Baik, Brigadir. Kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi Gidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. "Sungguh orang yang besar…!" begitu gumamnya.
Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada Sinuwun sebelum Sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.
Beberapa menit Sinuwun melintas di depan Stasiun Pekalongan, Brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.
Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut. Lalu kembali ke rumah dengan sepeda abu abu tuanya.
Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh-gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.
"Royadin, apa yang kamu lakukan? Sa’enake dewe. Ora mikir iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!" Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, di tangannya rebuwes milik Sinuwun pindah dari telapak kanan ke kiri bolak balik.
"Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun, biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo Sinuwun?" Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.
"Siap pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah... dan memang salah!" Brigadir Royadin menjawab tegas.
"Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia. Ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang... Ngawur...jan ngawur… Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri!" derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.
Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja. Memang Koppeg (keras kepala) kedengarannya.
Kepala polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan Sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaan Sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.
Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa. Satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman-temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan Selatan.
Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan Soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.
"Royadin, minggu depan kamu diminta pindah!" Lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak di pinggir kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya di persimpangan Soko.
"Siap, Pak!" Royadin menjawab datar.
"Bersama keluargamu semua, dibawa!" pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan Selatan, ini hanya merepotkan diri saja.
"Saya sanggup setiap hari pakai sepeda, Pak Komandan. Semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!" Brigadir Royadin menawar.
"Ngawur… Kamu sanggup bersepeda Pekalongan – Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan disini. Sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!" cetus Pak Komisaris, disodorkan surat yang ada di gengamannya kepada Brigadir Royadin.
Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya: "Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat." dan ditanda tangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Tangan Brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permintaan orang besar seperti Sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di Kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.
"Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!" Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.
July 2010, saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga di pekalongan, saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya, pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran.
Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari Sabang sampai Merauke.
Depok, 25 Juni 2011
Aryadi Noersaid
I was really really surprised after reading the article. Udah susah kali ya buat nyari seorang sosok yang punya pemikiran dan prinsip kayak Alm. Brigadir Royadi ini. Jaman sekarang entah itu petinggi negara, pejabat, bawahan, pegawai negeri atau apapun jarang banget ada yang bisa benar-benar mengabdi untuk pekerjaannya seperti beliau. And also, he's so principled and distinct in building the justice. Nggak peduli siapa yang lagi dia hadapi, kalo orang itu salah ya sudah sepantasnya diperingatkan layaknya orang yang lain (dengan kesalahan yang serupa). Dan mari menilik dari sisi sang 'sinuwun', yakni Sultan HB IX. Sebagai seorang penguasa dan raja pada masa itu, beliau juga begitu berhati besar dan nggak make kekuasaannya dan jabatannya semena-mena untuk sebuah kesalahan yang wajar kalo dilakuin orang biasa. Istilah Jawanya, 'ora dumeh'.
Ya harapan saya sebagai remaja yang aslinya nggak tau banyak tentang permasalan negeri ini, yang cuma tau berita-berita dari televisi dan koran, semoga nantinya nggak akan ada lagi pemerintah yang dzalim sama negara dan menghalalkan segala cara untuk bisa tetap 'di atas' hanya karena mereka punya tahta di pemerintahan.
At last, it's actually about a principle. True?
Kota Batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis. Pukul setengah enam pagi, polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas Pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.
Becak dan delman amat dominan masa itu, persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan di tepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti di hadapannya.
Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
"Selamat pagi!" Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. "Boleh ditunjukan rebuwes!" Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca, pada jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.
Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.
"Ada apa, Pak Polisi?" tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah… Sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.
"Bapak melanggar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.
Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sultan menolak.
"Ya, saya salah, lamu benar. Saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.
"Jadi…?" Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi Brigadir Royadin menjawabnya.
"Em..emm.. Bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan rajapun beliau tidak melakukannya.
"Baik, Brigadir. Kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi Gidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. "Sungguh orang yang besar…!" begitu gumamnya.
Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada Sinuwun sebelum Sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.
Beberapa menit Sinuwun melintas di depan Stasiun Pekalongan, Brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.
Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut. Lalu kembali ke rumah dengan sepeda abu abu tuanya.
Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh-gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.
"Royadin, apa yang kamu lakukan? Sa’enake dewe. Ora mikir iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!" Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, di tangannya rebuwes milik Sinuwun pindah dari telapak kanan ke kiri bolak balik.
"Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun, biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo Sinuwun?" Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.
"Siap pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah... dan memang salah!" Brigadir Royadin menjawab tegas.
"Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia. Ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang... Ngawur...jan ngawur… Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri!" derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.
Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja. Memang Koppeg (keras kepala) kedengarannya.
Kepala polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan Sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaan Sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.
Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa. Satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman-temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan Selatan.
Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan Soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.
"Royadin, minggu depan kamu diminta pindah!" Lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak di pinggir kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya di persimpangan Soko.
"Siap, Pak!" Royadin menjawab datar.
"Bersama keluargamu semua, dibawa!" pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan Selatan, ini hanya merepotkan diri saja.
"Saya sanggup setiap hari pakai sepeda, Pak Komandan. Semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!" Brigadir Royadin menawar.
"Ngawur… Kamu sanggup bersepeda Pekalongan – Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan disini. Sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!" cetus Pak Komisaris, disodorkan surat yang ada di gengamannya kepada Brigadir Royadin.
Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya: "Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat." dan ditanda tangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Tangan Brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permintaan orang besar seperti Sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di Kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.
"Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!" Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.
July 2010, saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga di pekalongan, saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya, pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran.
Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari Sabang sampai Merauke.
Depok, 25 Juni 2011
Aryadi Noersaid
I was really really surprised after reading the article. Udah susah kali ya buat nyari seorang sosok yang punya pemikiran dan prinsip kayak Alm. Brigadir Royadi ini. Jaman sekarang entah itu petinggi negara, pejabat, bawahan, pegawai negeri atau apapun jarang banget ada yang bisa benar-benar mengabdi untuk pekerjaannya seperti beliau. And also, he's so principled and distinct in building the justice. Nggak peduli siapa yang lagi dia hadapi, kalo orang itu salah ya sudah sepantasnya diperingatkan layaknya orang yang lain (dengan kesalahan yang serupa). Dan mari menilik dari sisi sang 'sinuwun', yakni Sultan HB IX. Sebagai seorang penguasa dan raja pada masa itu, beliau juga begitu berhati besar dan nggak make kekuasaannya dan jabatannya semena-mena untuk sebuah kesalahan yang wajar kalo dilakuin orang biasa. Istilah Jawanya, 'ora dumeh'.
Ya harapan saya sebagai remaja yang aslinya nggak tau banyak tentang permasalan negeri ini, yang cuma tau berita-berita dari televisi dan koran, semoga nantinya nggak akan ada lagi pemerintah yang dzalim sama negara dan menghalalkan segala cara untuk bisa tetap 'di atas' hanya karena mereka punya tahta di pemerintahan.
At last, it's actually about a principle. True?
Temen Musiman?
by
Syifana Rahma Addiyani
- Tuesday, December 13, 2011
Tempo hari di siang yang nggak begitu
panas dan agak mendung aku sama Pungky tiba-tiba kepengen beli es krim.
Awalnya gara-gara liat si Pepi yang tiba-tiba muncul aja gitu sama Evan
bawa Mixberry Sundae-nya McD dan dengan pokilnya nyuruh kita beli sendiri dan nggak boleh minta banyak-banyak :|
Aku sempet ngomong agak kenceng sih di sebelah Mumu, "Aduh, pengen es krim niccccch!" tapi yang disindir kayaknya nggak nyadar ya, makanya ik langsung aja deh, "Pung, beli yuk habis ini." dan seperti biasanya, Pungky yang selalu bisa aku hasut buat nemenin kemana-mana mengiyakan. Yes!
Aku sempet ngomong agak kenceng sih di sebelah Mumu, "Aduh, pengen es krim niccccch!" tapi yang disindir kayaknya nggak nyadar ya, makanya ik langsung aja deh, "Pung, beli yuk habis ini." dan seperti biasanya, Pungky yang selalu bisa aku hasut buat nemenin kemana-mana mengiyakan. Yes!
Udah di jalan, mampir ke pom
bensin, tiba-tiba keinget aja gitu pengen pancake di Pancake Company dan
kita langsung putar haluan ke arah JL. Prof. Dr. Yohanes (deket pom
bensin Sagan gitu). Nah, udah santai melangkah ke dalem, ternyata.... "Mbak, mau beli pancake ya? Wah bukanya jam 4 sore nanti tuh. Ini yang udah buka baru mie ayam ceker."
Kita lirik jam dan ternyata emang masih jam setengah 2. Yaaaaelah. Ya
udah deh kita akhirnya puter lagi ke Jl. Jend. Sudirman dan
ujung-ujungnya memutuskan buat ke KFC aja instead of McD dengan
pengharapan bisa makan puas dengan budget sedikit soalnya kita nyari
paket hemat (yang ujung-ujungnya nggak jadi hemat karena kita salah
pilih menu dan pake beli Krusher segala!!!!) Maklum, anak sekolah. Ehm.
Singkat kata kita menikmati late lunch sambil ngobrol-ngobrol ringan, dan tiba-tiba pembicaraan menjurus ke arah tema "teman musiman" dan entah kenapa Pungky bisa menemukan istilah itu. Apa itu teman musiman? Ya seseorang yang cuma dianggap temen kalo lagi musim aja, kalo lagi musim ya ntar deket banget, kalo udah nggak musim ya nggak deket. Apakah seseorang yang menganggap teman-temannya seperti itu ada di sekeliling saya? Pastinya ada, tapi alhamdulillah I don't feel none of them treat me that way :) Neither do I. Kalopun ada toh aku nggak dirugiin secara langsung juga kan?
Regarding to one of my post about how people change lately, ini masih aja berlangsung lho. People change, I change, everybody changes, because no one's stuck on one particular habit. Pasti deh ada yang berubah, baik itu berubah jadi lebih bagus, atau sebaliknya.
Tapi lama-kelamaan setelah ditelusuri, perubahan-perubahan yang terjadi
pasti banyak menimbulkan komplain dan perbincangan di antara banyak
orang. So (awalnya) I started complaining as well. Tapi malah
komplain-komplain itu justru dibalikkan lagi sama mereka, "Don't
complain because we're not the only one changing. You are too." Nah lho,
nggak jadi komplain deh gue kalo gitu hahaha.
Thank you.
P.S. Hari ini hari cantik; 13-12-11 and I thought I should at least make a post on blog that's why I posted this crap. Hahaha labil! :p
Tempo hari di siang yang nggak begitu
panas dan agak mendung aku sama Pungky tiba-tiba kepengen beli es krim.
Awalnya gara-gara liat si Pepi yang tiba-tiba muncul aja gitu sama Evan
bawa Mixberry Sundae-nya McD dan dengan pokilnya nyuruh kita beli sendiri dan nggak boleh minta banyak-banyak :|
Aku sempet ngomong agak kenceng sih di sebelah Mumu, "Aduh, pengen es krim niccccch!" tapi yang disindir kayaknya nggak nyadar ya, makanya ik langsung aja deh, "Pung, beli yuk habis ini." dan seperti biasanya, Pungky yang selalu bisa aku hasut buat nemenin kemana-mana mengiyakan. Yes!
Aku sempet ngomong agak kenceng sih di sebelah Mumu, "Aduh, pengen es krim niccccch!" tapi yang disindir kayaknya nggak nyadar ya, makanya ik langsung aja deh, "Pung, beli yuk habis ini." dan seperti biasanya, Pungky yang selalu bisa aku hasut buat nemenin kemana-mana mengiyakan. Yes!
Udah di jalan, mampir ke pom
bensin, tiba-tiba keinget aja gitu pengen pancake di Pancake Company dan
kita langsung putar haluan ke arah JL. Prof. Dr. Yohanes (deket pom
bensin Sagan gitu). Nah, udah santai melangkah ke dalem, ternyata.... "Mbak, mau beli pancake ya? Wah bukanya jam 4 sore nanti tuh. Ini yang udah buka baru mie ayam ceker."
Kita lirik jam dan ternyata emang masih jam setengah 2. Yaaaaelah. Ya
udah deh kita akhirnya puter lagi ke Jl. Jend. Sudirman dan
ujung-ujungnya memutuskan buat ke KFC aja instead of McD dengan
pengharapan bisa makan puas dengan budget sedikit soalnya kita nyari
paket hemat (yang ujung-ujungnya nggak jadi hemat karena kita salah
pilih menu dan pake beli Krusher segala!!!!) Maklum, anak sekolah. Ehm.
Singkat kata kita menikmati late lunch sambil ngobrol-ngobrol ringan, dan tiba-tiba pembicaraan menjurus ke arah tema "teman musiman" dan entah kenapa Pungky bisa menemukan istilah itu. Apa itu teman musiman? Ya seseorang yang cuma dianggap temen kalo lagi musim aja, kalo lagi musim ya ntar deket banget, kalo udah nggak musim ya nggak deket. Apakah seseorang yang menganggap teman-temannya seperti itu ada di sekeliling saya? Pastinya ada, tapi alhamdulillah I don't feel none of them treat me that way :) Neither do I. Kalopun ada toh aku nggak dirugiin secara langsung juga kan?
Regarding to one of my post about how people change lately, ini masih aja berlangsung lho. People change, I change, everybody changes, because no one's stuck on one particular habit. Pasti deh ada yang berubah, baik itu berubah jadi lebih bagus, atau sebaliknya.
Tapi lama-kelamaan setelah ditelusuri, perubahan-perubahan yang terjadi
pasti banyak menimbulkan komplain dan perbincangan di antara banyak
orang. So (awalnya) I started complaining as well. Tapi malah
komplain-komplain itu justru dibalikkan lagi sama mereka, "Don't
complain because we're not the only one changing. You are too." Nah lho,
nggak jadi komplain deh gue kalo gitu hahaha.
Thank you.
P.S. Hari ini hari cantik; 13-12-11 and I thought I should at least make a post on blog that's why I posted this crap. Hahaha labil! :p
Boys Who
by
Syifana Rahma Addiyani
- Saturday, December 10, 2011
♥ #68 Boys who don't flirt with every single girl.
♥ #162 Boys who prove to you that they're different and love you for you, no matter what.
♥ #211 Boys who give you butterflies just from them looking at you.
♥ #214 Boys who look for relationships, not hook ups.
♥ #229 Boys who aren't afraid to tell you how much you mean to them.
♥ #234 Boys who take the time to understand you.
♥ #235 Boys who text you right when they wake up, and right before bed.
♥ #260 Boys who give you space when you need it
♥ #279 Boys who love the things that you dont like about yourself.
♥ #281 Boys who tickle you.
♥ #291 Boys who know when somethings bugging you without you even telling them.
♥ #296 Boys who rub your back while your falling asleep.
♥ #299 Boys who prefer a pretty heart over a pretty face.
♥ #301 Boys who pull you closer when you start to pull away from a hug.
They describe him enough.
Credit: @_boyswho
♥ #68 Boys who don't flirt with every single girl.
♥ #162 Boys who prove to you that they're different and love you for you, no matter what.
♥ #211 Boys who give you butterflies just from them looking at you.
♥ #214 Boys who look for relationships, not hook ups.
♥ #229 Boys who aren't afraid to tell you how much you mean to them.
♥ #234 Boys who take the time to understand you.
♥ #235 Boys who text you right when they wake up, and right before bed.
♥ #260 Boys who give you space when you need it
♥ #279 Boys who love the things that you dont like about yourself.
♥ #281 Boys who tickle you.
♥ #291 Boys who know when somethings bugging you without you even telling them.
♥ #296 Boys who rub your back while your falling asleep.
♥ #299 Boys who prefer a pretty heart over a pretty face.
♥ #301 Boys who pull you closer when you start to pull away from a hug.
They describe him enough.
Credit: @_boyswho
Fond Memories
by
Syifana Rahma Addiyani
- Thursday, December 08, 2011
Went through my old blog and found some old photographs I took 3-4 years ago when I was still a junior high-er. Below aren't the original photos thou, I put some touch-ups with Photoshop to prettify them a little and just in case to make a more oldish feeling. Mystique.
Tamansari Water Castle, 2009.
Junior high's spot.
I didn't blatantly acknowledge that I liked and was keen on photography stuffs. I just loved and enjoyed putting memories into photographs, splattered to one object to another, and years later when I opened 'em back (like I'm doing right now) I would be recalled to the certain memories.
And that is what a yearning starts with.
Went through my old blog and found some old photographs I took 3-4 years ago when I was still a junior high-er. Below aren't the original photos thou, I put some touch-ups with Photoshop to prettify them a little and just in case to make a more oldish feeling. Mystique.
Tamansari Water Castle, 2009.
Junior high's spot.
I didn't blatantly acknowledge that I liked and was keen on photography stuffs. I just loved and enjoyed putting memories into photographs, splattered to one object to another, and years later when I opened 'em back (like I'm doing right now) I would be recalled to the certain memories.
And that is what a yearning starts with.
Syifana Rahma Addiyani. Powered by Blogger.




























